Kegiatan Bongkar Muat Batu Bara Kembali Diperbolehkan di Pelabuhan Cirebon Asal Keamanan Diperhatikan

0
301
Pelindo II Rancang Pelabuhan Cirebon Terhubung Tol Kanci. Foto: Istimewa (jppn.com)

Cirebon – (suaracargo.com)

Pelabuhan Cirebon akhirnya dibuka kembali untuk bongkar batu bara. Keselamatan bersama menjadi salah satu pertimbangannya. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, pembukaan kembali pelabuhan Cirebon untuk aktivitas bongkar batu bara didasarkan pada surat edaran Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Cirebon dengan nomor UM 003/1/6/KSOP.Cbn-2016 tertanggal 12 Januari 2016.

Surat yang ditandatangani langsung oleh Kepala KSOP Cirebon tersebut menyebutkan, aktivitas kegiatan pembongkaran batu bara di wilayah Pelabuhan Cirebon sejak 12 Januari 2016 pukul 18.00 WIB sudah dapat beroperasi kembali. Namun sejumlah syarat ketat turut dicantumkan dalam surat tersebut. Di antara persyaratan tersebut, wajib memperhatikan lingkungan saat maupun setelah bongkar batu bara, diwajibkan memasang peralatan penyemprot/penyiram debu saat bongkar batu bara yang dipasang pada eskavator,penutupan terpal pada truk pengangkut batu bara dan sejumlah ketentuan lainnya.

“Jika ketentuan itu tidak dilaksanakan dan masih menimbulkan debu, maka kegiatan bongkar muat batu bara akan dihentikan oleh tim pengawas bongkar muat batu bara,” kata Kepala KSOP Cirebon, Revolindo, Selasa 12 Januari 2016.

Revolindo menjelaskan, ada sejumlah alasan untuk membuka kembali aktivitas bongkar batu bara di Pelabuhan Cirebon. Alasan yang paling mendesak yaitu tumpukan batu bara di atas tongkang sudah berasap. “Jika terus dibiarkan, maka menimbulkan kebakaran yang sangat besar,” katanya. Asap tidak hanya keluar dari batu bara yang ada di 2 tongkang yang sudah sandar di dermaga Muara Jati 1 tapi juga dari 17 tongkang pengangkut batu bara lainnya yang tengah antri menunggu giliran sandar. Mereka berada antara 1 hingga 2 mil dari pantai.” katanya seperti dilansir tempo.co.

Karenanya, lanjut Revo, setelah dilakukan rapat koordinasi dengan Walikota Cirebon, Nasrudin Azis, serta bermusyawarah dengan warga, akhirnya penutupan sementera bongkar batu bara di Pelabuhan Cirebon dicabut. “Kami meminta kepada warga untuk bisa memahami kondisi ini,” katanya.

Mengenai pembentukan tim pengawas bongkar muat batu bara, Revo mengungkapkan jika tim tersebut terdiri dari berbagai unsur yang di Kota Cirebon. “Salah satunya termasuk Didi Sunardi, anggota DPRD Kota Cirebon,” kata Revo. Seperti diketahui, Didi Sunardi, salah satu anggota DPRD Kota Cirebon yang menentang keras dibukanya kembali pelabuhan Cirebon untuk aktivitas bongkar batu bara. Bahkan Didi pun memimpin demo ke Balaikota Cirebon saat Walikota Cirebon, Nasrudin Azis memberikan sinyal memperbolehkan kembali aktivitas bongkar batu bara di Pelabuhan Cirebon pada Senin 11 Januari 2016 kemarin.

Sementara itu Ketua Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Cirebon, Agus Purwanto, menjelaskan pihaknya bersyukur dengan dibukanya kembali aktivitas bongkar batu bara di Pelabuhan Cirebon. “Kami tentu sangat bersyukur,” kata Agus. Selanjutnya Agus pun menyatakan jika pihaknya berkomitmen mematuhi ketentuan yang ada pada surat edaran KSOP tersebut. “Kami siap untuk melaksanakan ketentuan yang sudah ditetapkan,” kata Agus.

Sedangkan Manajer Operasional PT Pelindo II Pelabuhan Cirebon, Yossianus Marciano, mengungkapkan sebagai operator di Pelabuhan Cirebon pihaknya pun siap untuk melaksanakan ketentuan yang ada pada surat edaran KSOP tersebut. “Berbagai langkah perbaikan pun kami lakukan,” kata Yossi. Diantaranya dengan akan memasang jaring untuk menyaring debu batu bara agar tidak sampai ke pemukiman penduduk. Termasuk dengan hanya menggunakan satu dermaga untuk bongkar batu bara yaitu dermaga Muara Jati. “Dermaga ini paling jauh dari pemukimanpenduduk,” kata Yossi. Padahal sebelumnya ada 6 dermaga yang digunakan untuk bongkar batu bara.

Seperti diberitakan sebelumnya sejak Kamis 7 Januari 2016 pukul 18.00 WIB aktivitas bongkar di Pelabuhan Cirebon ditutup sementara. Penutupan sementara yang dilakukan atas surat dari KSOP Cirebon dengan nomor UM.003/1/4/KSOP-CBN 2016 tersebut atas dasar pertimbangan kondusivitas daerah. Terutama karena maraknya demo yang menolak aktivitas bongkar batu bara di Pelabuhan Cirebon.

Setiap tahunnya ada 3 juta ton batu bara yang masuk ke Pelabuhan Cirebon. Sebanyak 70 persen pasokan batu bara tersebut digunakan untuk sejumlah industry, diantaranya tekstil dan PLN, di wilayah Bandung. Sedangkan sisanya untuk industry di wilayah Cirebon dan Jateng Jateng bagian barat.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here