Kelola PLB, PT Astratel Nusantara Gencar Ekspansi di Bisnis Logistik

0
323

Grup Astra melalui anak usahanya PT Pelabuhan Penajam Banua Taka atau dikenal dengan ASTRA PORT AND LOGISTIC CENTER - EASTKAL telah mendapat kepercayaan oleh Direktorat Bea dan Cukai, menjadi salah satu Pusat Logistik Berikat -- Gudang multifungsi yang bea masuk dan pajak impornya ditunda dan diberikan fasilitas penyimpanan bahan baku hingga 3 tahun lamanya hingga ada pembeli. Foto Dok ASTRATEL

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Astratel Nusantara gencar berekspansi di bisnis logistik. Saat ini, Astratel telah mengelola satu PLB di Kalimantan Timur yang dikelola melalui anak usahanya, PT Pelabuhan Penajam Banua Taka (eastkal) seluas 95 hektare (ha). Pusat logistik berikat ini diresmikan oleh presiden Joko Widodo Maret 2016 lalu.

banner-csm-atas

Presiden Direktur Astra Port Logistic Centra (APLC) Eastkal Billy P. Kadar mengatakan, pada tahun ini Astratel melalui Eastkal tengah mempersiapkan penambahan dua PLB baru di wilayah Sumatera dan Jawa. Sayang, ia tidak bersedia menyampaikan secara rinci lokasi PLB yang akan dikembangkan tersebut.

Dalam mengembangkan PLB, Astratel masih akan fokus untuk menyasar sektor tambang dan minyak dan gas. Menurut Billy, investasi dalam pengembangan PLB tidak besar karena Astratel tidak harus mengakuisisi lahan. Pihaknya bisa mengoperasikan gudang yang telah ada miliki pelanggan atau milik Astra Grup.

Awalnya, cakupan PLB yang dikembangkan Eastkal hanya meliputi pelabuhan Panajam. Namun, perusahaan ini kemudian melakukan perluasan ke Pelabuhan Kariangau Balikpapan sejak sejak Agustus 2016 lalu. Lalu Easkal juga melakukan perluasan PLB ke Sukapura, Cilicing Jakarta Utara. PLB ini nantinya akan dikelola oleh PT United Tractors (UT) yang merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan Astratel.

Adapun pengembangan PLB Kariangau terdiri dari gudang seluas 1.260 m2 dan lapangan penumpukan seluas 670 m2. Sedangkan luas gudang yang dikembangkan di Sukapura mencapai 3.000 m2 yang diperkirakan akan memberikan potensi efisiensi cash flow sebesar Rp 34 miliar per tahun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY