Kemenhub Pelajari Kasus PT JICT Terkait Lambatnya Pelayanan

0
246
ilustrasi penanganan peti kemas

Jakarta – (suaracargo.com)

Kementrian Perhubungan (Kemenhub) sedang mempelajari kasus PT Jakarta International Container Terminal (JICT) terkait lambatnya layanan yang dikeluhkan pelanggan akhir-akhir ini. Pasalnya, JICT menunjuk vendor penyedia operator alat lapangan RTGC baru yakni Multi Tally Indonesia (MTI).

Namun vendor tersebut dinilai minim pengalaman dan SDM, sehingga menyebabkan turunnya kinerja terminal tersebut. “Kami akan cek dan pelajari terlebih dahulu kasus JICT tersebut,” kata Kepala Humas Kementrian Perhubungan, Lollan Andy Sutomo melalui pesan singkat di Jakarta.

Sementara Wakil Direktur Utama JICT Riza Erivan mengakui memang ada penurunan produktivitas pelayanan, karena proses peralihan vendor operator derek lapangan (RTGC) di pelabuhan tersebut. “Kami akui ada pelambatan. Hal ini dampak peralihan operator di JICT. Perlu waktu untuk operator baru menyesuaikan dengan pekerjaan baru. Kami mohon maaf atas kelambatan ini,” jelasnya.

Sebelumnya telah terjadi penurunan produktivitas yang signifikan dan beberapa insiden serius di JICT. Kapal-kapal yang dilayani JICT harus mengalami keterlambatan 4-44 jam karena dampak peralihan vendor tersebut. Alhasil banyak petikemas ekspor ditinggal kapal dan menyebabkan kerugian besar pengguna jasa.

Bahkan Jumat lalu (5/1), petikemas impor sempat salah kirim ke gudang pemilik. Petikemas milik PT Gala Perdana Agung terpaksa harus dikembalikan ke JICT. Standar kualitas Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menegaskan jangan sampai dampak proses peralihan vendor dibiarkan berlarut. “Kerugian (akibat pergantian vendor di JICT) pasti ada dan sedang kita hitung,” ujar Ketua ALI Zaldy Masita.

Di sisi lain, Ketua Dewan Pelabuhan Sungkono Ali menyoroti arogansi Wakil Direktur Utama JICT Riza Erivan. “Ini masalah arogansi dia (Riza) karena tidak mampu berkomunikasi dengan pekerja,” ujar Sungkono.

Lebih lanjut, Sungkono mempertanyakan pernyataan Riza soal peningkatan kinerja dan kelancaran arus barang dengan adanya pergantian vendor baru JICT. Faktanya kapal banyak terlambat, kemacetan angkutan petikemas berhari-hari dan pabrik telat memasok bahan baku. Pada akhirnya ini akan mengganggu perekonomian nasional.

“Jadi dampak kacaunya pelayanan JICT lebih kepada soal profesionalitas Direksi dan vendor yang nihil pengalaman namun tetap ditunjuk sebagai pemenang. Manajemen JICT harus tanggung jawab,” paparnya, seperti dilansir sindonews.com.

Pasca penunjukkan vendor MTI di JICT, tercatat 8 kecelakaan kerja dan satu petikemas yang tidak sesuai dokumen berhasil keluar dari JICT. Selain itu produktivitas JICT saat ini hanya 14,07 mph (move per hour). Jauh dibawah standar yang ditetapkan Kemenhub yakni 26 mph.

Diterangkan beberapa kapal yang mengalami delay di JICT sejak awal tahun ini, Senin (1/1/2018) yakni CMA CGM LA SCALA 115TUE, Delay 44 jam, SM jakarta 1705E, Delay : 10 jam, Wanhai 216 N341, Delay : 4 jam, Meratus tomini 1801N, Delay; 6 jam dan Northern Volution 1713N, Delay : 10jam.

Selanjutnya MSC Imma HC752R, Delay : 7 jam, Princess of luck 008N, Delay : 24 jam, Sinar sumba 482S, Delay : 10 jam, Bremen Helle 545 SEW, Delay : 19 jam serta Cucko hunter 260QAN, Delay: 33 jam. Ditambah Cosco Izmir 029N, Delay : 31 jam, Star river 0020N, Delay : 41 jam dan VNL ruby 1705E, Delay : 19 jam.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here