Kemudahan Ekspor ke Singapura dari Pelabuhan Tanjung Wangi Kian Terbuka

0
472
ilustrasi pelabuhan (foto:Istimewa/sindonews.com)
ilustrasi pelabuhan (foto:Istimewa/sindonews.com)

Surabaya – (suaracargo.com)

Potensi peningkatan ekspor provinsi Jawa Timur diharapkan akan semakin terbuka. Optimisme itu menyusul diberlakukannya fasilitas petikemas port-to-port dari Pelabuhan Tanjung Wangi ke Port Authority of Singapore selaku simpul (hub) perdagangan dari Banyuwangi.

General Manager PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Bangun Swastanto mengungkapkan, dengan adanya fasilitas tersebut, pengiriman barang dari Banyuwangi hanya akan memakan waktu 5 hari untuk transit di Singapura, sebelum didistribusikan ke negara tujuan. “Ini memberikan peluang bagi masyarakat Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya untuk melakukan kegiatan ekspor maupun impor untuk menggerakkan roda perputaran barang guna mendukung perekonomian,” katanya, Selasa (21/4).

Bangun juga mengungkapkan, fasilitas Pelabuhan Tanjung Wangi tersebut sudah dapat digunakan oleh pengusaha di Banyuwangi, Jember, Situbondo, dan Bondowoso dengan jadwal kedatangan kapal reguler, tetap, dan pasti. Menurut Bangun, Pelindo III cabang Tanjung Wangi bekerja sama dengan PT Lintas Cahaya Abadi untuk mengoperasikan fasilitas itu dengan kapal MV New Light, yang mampu mengangkut 350 kontainer berukuran 20 kaki atau 175 kontainer berukuran 40 kaki.

Pelabuhan Tanjung Wangi sendiri memiliki kedalaman -14 LWS, peralatan bongkar muat, dan perusahaan bongkar muat (PBM) yang beroperasi 24 jam. Sarana tersebut digadang-gadang cukup mumpuni untuk kegiatan ekspor-impor melalui ujung timur Provinsi Jatim. “Hal tersebut telah dibuktikan saat melakukan kegiatan bongkar muat peralatan dan perlengkapan perang US Army, yang sebagian besar dimuat menggunakan kontainer melalui Pelabuhan Tanjung Wangi saat melaksanakan pelatihan di Situbondo tahun lalu.”

Lebih lanjut, kata Bangun, dengan adanya fasilitas container port-to-port, biaya logistik dari Tanjung Wangi dapat ditekan. Pasalnya, selama ini kegiatan bongkar muat di pelabuhan itu didominasi oleh curah dan bag cargo yang memerlukan waktu lama. “Dengan kontainerisasi, proses bongkar muat akan lebih cepat karena 350 kontainer dapat dibongkar hanya sekitar sehari, sehingga akan mengurangi biaya waktu tunggu kapal. Selain itu, Tanjung Wangi juga akan mengurangi biaya transportasi ke Surabaya.” katanya, seperti dilansir bisnis.com.

Tahun ini, Tanjung Wangi mendapat tambahan fasilitas dermaga umum sepanjang 25×8 meter untuk meningkatkan kapasitas kapal yang akan sandar. Pada 2016, pelabuhan itu akan mendapat tambahan dermaga ex-APBN menjadi 150 meter khusus untuk terminal petikemas.

Menurut Bangun, dengan adanya penambahan fasilitas tersebut, biaya kepelabuhanan yang ditanggung oleh pihak pelayaran akan menjadi lebih murah.

Diharapkan, penurunan biaya nantinya tersebut berdampak pada pertumbuhan industri di Kabupaten Banyuwangi. Dengan membuka akses hub ekspor ke Singapura, diharapkan para pengusaha Banyuwangi, Jember, Situbondo, dan Bondowoso lebih banyak mengirimkan hasil industri, hasil olahan makanan, kerajinan, buah-buahan, dan ikan melalui Tanjung Wangi.

“Tujuannya agar pengiriman barang bisa lebih efektif dan efisien, juga lebih murah dibandingkan melalui Surabaya, yang saat ini harus melalui transportasi darat.” pungkas Bangun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here