Kenaikan Harga Pangan Puncak Gunung Es Dari Tata Niaga dan Sistem Logistik Buruk

0
197
Presiden Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (keempat kanan), Menperin Saleh Husin (kelima kanan), Mendag Thomas Lembong (kedua kanan) berdialog dengan Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Sutrisno Bachir (ketiga kiri) bersama Anggota Dewan KEIN Sudhamek (kelima kiri) serta anggota lainnya saat pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, 15 April 2016. Rapat konsultasi tersebut membahas isu ekonomi dan kebijakan sektor industri dalam upaya memajukan perekonomian nasional. (Antara/Yudhi Mahatma)

Jakarta – (suaracargo.com)

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyatakan, tata niaga yang panjang dan sistem logistik yang buruk menjadi penyebab kenaikan harga pangan di negeri ini.

Ketua KEIN, Sutrisno Bachir, menyebutkan, kenaikan harga pangan pada setiap bulan bulan Ramadan merupakan puncak gunung es dari keruwetan tata niaga dan jalur distribusi logistik pangan yang tidak baik.

“Kenaikan ini merupakan puncak gunung es yang awalnya itu sebenarnya adanya tata niaga yang begitu panjang dan sistem logistik atau distribusi yang pengelolaannya masih jauh dari apa yang dibutuhkan,” kata Sutrisno, seperti dilansir beritasatu.com.  Sutrisno mengatakan hal tersebut usai bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/6).

Jajaran pimpinan dan anggota KEIN bertemu Presiden Jokowi untuk membahas sejumlah isu terkini. Di antaranya isu tersebut adalah masalah pangan dan peta industri nasional.

Sutrisno datang bersama Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta, Putri Wardani (Sekretaris), dan jajaran anggota yang terdiri dari, Hendri Saparini, Hariyadi Sukamdani, Eddy Kusnadi Sariatmaja, Sudhamek, Johnny Darmawan, Benny Soetrisno, Mohammad Fadhil Hasan, Benny Pasaribu, Sonny Budi Harsono, Aries Muftie, Muhammad Syafii Antonio, M Najikh, Andri BS Sudibyo, Zulhanar Usman, Irfan Wahid, Donny Oskaria, dan Sugiarto Alim.

Promo CSMCARGO Ramadhan

Sutrisno mengungkapkan, kenaikan harga pangan juga dipengaruhi masalah permodalan. Disebutkan oleh beliau, banyak petani terlibat utang pada rentenir untuk membeli pupuk dan bibit. Akibatnya, hasil panennya dikuasai rentenir.

“Penanganan tata kelola pangan ini mulai dari produksi, pupuk yang langka, penanganan pupuk, sampai pada masa panen harga jatuh, Bulog tidak bisa membeli banyak karena memang sudah di tangan rentenir. Petani harus membeli pupuk dan inputnya harus tunai, tidak ada kredit, sehingg?a pinjam dana ke rentenir,” kata Sutrisno.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY