Kepastian Masa Depan Proyek Pelabuhan Cilamaya Semakin Tidak Menentu

0
383
peta lokasi Cilamaya (kompas.com)
peta lokasi Cilamaya (kompas.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Keengganan pihak swasta dalam menanamkan investasi pada proyek Pelabuhan Cilamaya membingungkan pemerintah terkait masa depan pelabuhan yang bakal berlokasi di Karawang, Jawa Barat ini. Persoalan itu semakin bertambah terkait rencana lokasi pembangunan pelabuhan yang ternyata berbenturan dengan pipa minyak milik PT Pertamina (Persero).

Masalah analisis dan dampak lingkungan pelabuhan tersebut juga bermasalah sehingga Cilamaya belum bisa dibangun. Di tengah setumpuk persoalan itu, pemerintah ternyata masih ngotot melanjutkan proyek yang digadang-gadang sebagai bagian dari proyek tol laut itu.

Pemerintah membentuk tim kajian guna membangun pelabuhan Cilamaya. Tim kajian ini terdiri dari para ahli yang ada di kementerian/lembaga terkait. “Kami lagi bikin tim dengan Bappenas, Kemenhub dan BPPT sedang ada kajian dalam sebulan ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Maritim Indroyono Soesilo di kediamannya, Jakarta, semalam, sebagimana dilansir merdeka.com.

Indroyono menegaskan, tim kajian ini nantinya bakal memberikan rekomendasi terkait pembangunan pelabuhan tersebut. Dengan begitu, pembangunan pelabuhan ini masih belum diputuskan untuk dibatalkan. “Nanti akan berikan rekomendasi jadi atau tidaknya pembangunan Pelabuhan Cilamaya,” kata dia.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengirimkan surat bernomor KU.001/1/1 A Phb-2015 kepada Presiden Joko Widodo pada 16 Januari lalu. Isinya, rekomendasi agar proyek Pelabuhan Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, dilanjutkan. “Pelabuhan Cilamaya diperlukan untuk mendukung penambahan kapasitas pelayanan pelabuhan di Metropolitan Jakarta dalam rangka mengantisipasi pertumbuhan pesat dan permintaan pelayaran jasa peti kemas di pelabuhan,” Demikian isi surat Jonan.

Jonan juga menyebut sejumlah manfaat pembangunan pelabuhan Cilamaya. Pertama, menekan biaya logistik dengan mendekatkan pusat produksi di kawasan industri Cikarang dan Karawang dengan outlet pelabuhan dari sebelumnya ke Tanjung Priok (70 kilometer) menjadi ke Cilamaya (30 kilometer).

Kedua, memperkuat ketahanan ekonomi dengan menyediakan backup outlet pelabuhan melayani wilayah menghasilkan 7 persen kargo dalam negeri. Ketiga, menurunkan tingkat kemacetan di ibu kota negara dengan memindahkan sebagian trafik angkutan berat ke luar wilayah ibu kota. Keempat, menekan penggunaan bahan bakar minyak subsidi dan meningkatkan utilisasi truk kontainer dengan memperpendek jarak tempuh dari industri manufaktur ke pelabuhan. Kelima, menjamin keselamatan pelayaran dan area eksplorasi migas di kawasan lepas pantai Pelabuhan Cilamaya.

Berdasarkan evaluasi Kementerian Perhubungan, proyek pembangunan dan pengoperasian Cilamaya dapat sepenuhnya menggunakan pembiayaan swasta. Proyek tersebut masih menarik dan layak ditawarkan melalui skema kerja sama pemerintah dan swasta. “Sehingga tidak memerlukan dana APBN.” Proyek Pelabuhan Cilamaya merupakan amanat dari Peraturan Presiden Nomor 32 tahun 2001 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2015.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here