Kondisi Infrastruktur Jadi Kendala Daya Saing Rumput Laut Indonesia

0
374
Rumput Laut (bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pengusaha rumput laut meminta pemerintah mengambil solusi konkret untuk memperbaiki ekosistem perdagangan ekspor, terutama terkait hal-hal yang terkait infrastrukrur dan logistik.

Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia Safari Azis mengatakan, selain terkendala kondisi perekonomian global, kalangan eksportir rumput laut saat ini masih terbentur persoalan minimnya infrastruktur, terutama di daerah Indonesia bagian timur.

Akibatnya daya saing produk perikanan Indonesia, terutama rumput laut, kalah jauh bila dibandingkan dengan negara eksportir lain seperti Filipina, Vietnam dan Myanmar.

posko-garut

“Banyak potensi yang bisa diangkat tetapi kita memang jauh tertinggal dalam hal daya saing. Kuncirnya di sini bagaimana pemerintah mempercepat infrastruktur serta aturan-aturan yang memberatkan di daerah supaya daya saing kita bisa terangkat,” katanya, Rabu (28/9/2016).

Safari yang juga merupakan anggota Komite Tetap Bidang Pengembangan Perdagangan Kadin Indonesia menyatakan, sebelum melakukan diversifikasi pasar, pemerintah harus fokus membenahi persoalan yang ada di dalam negeri yang menghambat perkembangan industri.

Dia menyebut, hasil-hasil pertanian sulit bersaing karena terbebani dengan pajak dan retribusi yang tinggi. Misalnya, pajak pertambahan nilai PPH 22 dan PPH 23 bagi petani sebesar 0,25% – 0,50% dari hasil pertanian.

Di luar itu, masih ada sederet kewajiban lain seperti PBB, retribusi daerah dan biaya pengiriman antarpulau yang dikenakan pemerintah daerah.

“Jika tidak ada sistem terintegrasi antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri seperti sekarang, bagaimana arus perdagangan kita bisa lancar. Belum lagi ketiadaan kapal kontainer di dalam satu provinsi, ini kan sangat vital dan perlu dipecahkan bersama,” ujarnya, seperti dilansir bisnis.com.

Berdasarkan data BPS, perdagangan ekspor produk perikanan budidaya memang mengalami penurunan tajam, sebesar 21,82% dari US$141,1 juta pada Januari – Agustus 2015 menjadi US$110,3 juta pada Januari – Agustus 2016.

Secara khusus untuk produk rumput laut dan ganggang lainnya, ekspor pada Agustus 2016 memang naik 98,6% menjadi US$13,1 juta dibandingkan tahun lalu.

Namun, secara akumulatif Januari – Agustus nilainya turun 37% dari US$112,3 juta pada tahun lalu menjadi hanya US$70,7 juta pada periode 2016.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here