Konsesi Priok Berubah, Adakah Kerugian Negara?

0
338

Jakarta – (suaracargo.com)

Kementerian Perhubungan menyiapkan perubahan atau addendum perjanjian konsesi Terminal New Priok menyusul keterlambatan penyelesaian proyek pembangunan terminal kontainer tahap I New Priok yang dikerjakan oleh PT Pelindo II/IPC.

Addendum akan dilakukan setelah selesainya proses investigasi yang dilakukan oleh tim. Sambil menunggu hasil rekomendasi tim itu, pekerjaan pembangunan proyek New Priok tetap dilaksanakan sebagaimana yang tertuang dalam perjanjian konsesi awal.

Kepala OP Tanjung Priok Bay Mokhamad Hasani mengatakan investigasi dilakukan bersama Tim yang terdiri dari unsur OP Tanjung Priok dan Kemenhub untuk mengetahui penyebab molornya operasional terminal kontainer New Priok tahap I yang direncanakan awalnya bisa dioperasikan pada 31 Desember 2014.

“Kami investigasi terlebih dahulu sebab sesuai dengan perpres-nya dan perjanjian konsesi awal yang diberikan pemerintah bahwa New Priok beroperasi pada akhir 2014. Apa kendalanya ini masih kami selidiki,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (4/2/2015).

Pembangunan New Priok, selain diamanatkan melalui Peraturan Presiden RI No 36/2012, juga telah dilakukan pemberian izin konsesi pengoperasian dari pemerintah kepada Pelindo II dengan masa konsesi selama 75 tahun.

Bay mengatakan pada tahap awal investigasi yang sudah dilakukan diperoleh informasi bahwa molornya pengoperasian New Priok tahap I itu disebabkan beberapa faktor kendala. Faktor-faktor tersebut antar lain, belum adanya akses jalan ke lokasi New Priok karena terkait dengan pembebasan lahan di kawasan Kalibaru, belum tersedianya TI (Teknologi Informasi), Listrik dan progres pembangunan fisik masih sekitar 80%.

Namun Bay belum berani memastikan, akibat keterlambatan proyek New Priok itu berpotensi hilangnya pendapatan negara karena sesuai dengan klausul konsesi yang diberikan disebutkan bahwa negara (pemerintah RI) memperoleh 0,5% dari pendapatan kotor per tahun (yang dibayarkan setiap bulan) saat terminal New Priok beroperasi secara komersial atau selambat-lambatnya pada 1 Januari 2016.

“Saya belum bisa bilang ada potensi itu (kerugian negara) atau tidak dalam hal ini. Soalnya, kami sedang lakukan investigasi dahulu secara konprehensif sesuai dengan apa yang disampaikan Menhub. Atas keterlambatan ini akan kami lakukan addendum perjanjian konsesi,” paparnya, sebagaimana dilansir bisnis.com.

Bay juga mengatakan, sudah menerima penjelasan dari manajemen IPC/Pelindo II bahwa tahap I terminal kontainer New Priok akan rampung pada pertengahan tahun ini dan siap dioperasikan. Dia pun mengungkapkan, pada klausul awal konsesi disebutkan bahwa target penyelesaian dermaga New priok terminal kontainer tahap I sepanjang 200 meter dari total 400 meter rampung pada 31 Desember 2014. “Karena sekarang kan waktu pembangunanya molor sekitar enam bulan, idealnya dan diharapkan penyelesaian panjang dermaga bisa lebih dari 200 meter,” tuturnya.

Dalam dokumen yang diperoleh Bisnis.com, Kantor OP Tanjung Priok sudah menanyakan soal progres pelaksanaan pembangunan dan pengoperasian terminal New Priok itu kepada Dirut Pelindo II R.J. Lino secara resmi pada 30 Kanuari 2015 melalui surat No. PP.001/1/1/OP.TPK-15.

Dalam surat itu disebutkan, keterlambatan pengoperasian New Priok tahap I akan dituangkan dalam addendum perjanjian konsesi dan waktu dimulainya pengoperasian terminal tersebut akan ditetapkan dengan memerhatikan hasil evaluasi Tim Kemenhub.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here