Konsumsi Swasta Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi 2014

0
339
Suasana pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/10). (sumber: Antara/OJT/Sigid Kurniawan)
Suasana pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/10). (sumber: Antara/OJT/Sigid Kurniawan)

Jakarta – (suaracargo.com)

Core Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2014 akan melambat ke level 5,1 persen menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi serta kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 0,25 basis poin menjadi 7,75 persen.

“Konsumsi swasta menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi tahun 2014,” kata Direktur Eksekutif Core Indonesia Hendri Saparini dalam “Core Media Discussion” di Restoran Mbok Berek, Jakarta, Selasa (16/12), sebagaimana dilansir beritasatu.com.

Hingga kuartal III-2014, pertumbuhan konsumsi swasta mencapai 5,5 persen. “Pemilihan umum (pemilu) yang dilangsungkan pertengahan tahun mampu memberikan stimulus pada peningkatan belanja masyarakat,” kata dia.

Hendri juga menjelaskan, belanja pemerintah pada tahun 2014 hanya tumbuh pada kisaran 2,5 persen, sementara investasi modal tetap tahun ini diperkirakan hanya tumbuh 5 persen. Investasi di sektor konstruksi masih menjadi penyumbang utama dengan pertumbuhan 6,5 persen disusul investasi di sektor mesin dan peralatan yang mengalami pertumbuhan hingga 4,9 persen.

Hendri mengatakan pula, kinerja ekspor selama tahun 2014 juga terus mengalami kontraksi sebesar -0,63 persen. Ada dua faktor yang menyebabkan penurunan ekspor yaitu, turunnya permintaan negara mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok, dan Uni Eropa serta harga komoditas global yang relatif lebih rendah. “Tahun 2014 merupakan tahun yang cukup berat bagi perekonomian,” ujar dia.

Dari sisi belanja, kualitas belanja pemerintah masih mengikuti pola lama sehingga belum memberikan multiplier effect bagi ekonomi. Diketahui, anggaran pendapatan belanja negara perubahan (APBN-P) 2014 mencapai Rp 1.876 triliun atau meningkat 15 persen. Sayangnya, anggaran tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Hal ini terlihat dari angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi.

Hendri menuturkan, inflasi hingga akhir tahun ini diperkirakan melonjak menjadi 8 persen menyusul kenaikan harga BBM serta faktor liburan Natal dan Tahun baru. “Kenaikan tarif listrik juga memberikan dampak terhadap inflasi,” kata dia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here