Kumis Logistik Targetkan Peningkatan Pendapatan Hingga 250 Milyar Tahun Depan

0
355
Ilustrasi cargo (foto:istimewa)

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Kurnia Mitra Selaras (Kumis Logistik) menargetkan omset hingga Rp 250 miliar pada 2019 mendatang. Omset yang ditargetkan itu naik lebih dari dua kali lipat dibanding target pada 2016 sebesar Rp 120 miliar. Hingga September 2016, pendapatan perseroan telah mencapai Rp 80 miliar. Tahun 2013, omset mereka hanya Rp 64 miliar.

Direktur Utama Kumis Logistik, Didiek Hendraleka mengatakan, logistik merupakan bidang yang masih luas untuk digarap. Hanya saja, mereka mesti siap menghadapi berbagai tantangan yang menghadang. Seperti, regulasi transportasi yang terus disempurnakan. Infrastruktur juga masih jadi kendala meski pemerintah telah berusaha keras menggenjot pembangunan di sektor tersebut.

“Ketersediaan infrastruktur, dalam hal ini jalan menjadi kendala bagi kami. Kami harus mengoptimalkan infrastruktur yang ada melalui sistem kontrol terpadu. Kami juga harus terus meningkatkan kekuatan dari sisi teknologi pendukung logistik seperti GPS tracking,” kata dia, seperti dilansir swa.co.id.

Oleh karena itulah, Kumis Logistik terus melengkapi jumlah armadanya yang saat ini telah berjumlah 350 truk yang dimiliki sendiri. Perseroan juga tak henti meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan menggelar beragam pelatihan, terutama untuk petugas di lapangan seperti pengemudi, pemantau, dan lainnya. Pelatihan digelar selama tiga pekan baru mereka siap menunaikan tugas.

“Kami juga sedng menyiapkan warehouse di Bekasi, Jawa Tengah, dan Surabaya yang akan dilengkapi dengan teknologi warehouse system untuk mengontrol arus keluar-masuk barang. Ini adalah salah satu komitmen kami untuk terus meningkatkan layanan lewat upating system,” kata dia.

Menurut dia, perseroan juga mesti jeli mengembangkan usaha ke berbagai segmen pasar yang potensial. Misalnya, pengelolaan car carrier dan car towing di bawah anak perusahaan PT Artindo Nusa Graha. Tak heran, mereka sudan berhasil melayani perusahaan besar seperti Astra Otomotif, Grup Kawan Lama, Unilever, Andalan Furnindo, Inoac, dan Fujiseat.

“Kecenderungan pola bisnis dari perusahaan manufaktur maupun consumer goods untuk lebih fokus pada core busintessnya, yaitu Cost Reduction Storage area dan keakuratan sistem distribusi,” kata dia.

Reportase: Tiffany Diahnisa
Editor: M. Nahar

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY