Kurangi Waktu Tunggu di Pelabuhan, Pemkot Cilegon Rencana Bangun Pelabuhan Baru di Warnasari

0
408
ilustrasi Penyiapan Tol Laut Kapal barang curah kering "Ocean Satoko" berbendera Panama berbobot 100.000 DWT yang mengangkut biji besi turun jangkar untuk melakukan bongkar muat, di Pelabuhan PT Pelindo II Cabang Banten, di Ciwandan, Cilegon, Selasa (26/8). (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Cilegon – (suaracargo.com)

Guna mengurangi waktu tunggu di pelabuhan atau dwelling time di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pemerintah kota (Pemkot) Cilegon berencana membangun pelabuhan baru di Warnasari, Kota Cilegon. Pelabuhan baru itu akan menampung barang jenis cair dan curah kering.

“Kalau Tanjung Priok itu kan jenis pelabuhannya pelabuhan petikemas, kalau pelabuhan kita kan pelabuhan cair dan curah kering. Curah kering itu untuk kepentingan semacam makanan, kalau cair itu kan ada kimia dan lain sebagainya,” ujar Wali Kota Cilegon, Iman Ariyadi, Rabu (26/4/2017).

Iman menyatakan, selama ini masalah yang dihadapi Pemerintah Pusat adalah soal dwelling time yang memakan waktu 3 hari. Meski begitu, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Perhubungan telah menargetkan bongkar muat di pelabuhan menjadi 2,5 hari.

“Dwelling time ini kan jadi problem pemerintah pusat, apakah dengan dua pelabuhan dan aktifitas di perairan Banten itu banyak bisa menyelesaikan masalah dwelling time, lama proses bongkar muat,” tambah Iman, seperti dilansir detik.com.

Saat ini, Cilegon sudah mempunyai 3 pelabuhan yakni pelabuhan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), pelabuhan Indah Kiat, dan pelabuhan Pelindo. Dengan bertambahnya pelabuhan yang rencananya akan diberi nama pelabuhan PT Cilegon Mandiri Bosowa Warnasari, lanjut Iman, nantinya proses bisnis di perairan Banten yang saat ini penuh dengan aktifitas kapal bongkar muat akan semakin mudah.

“Pasti akan terpecah, jadi kayak di Cilegon ini kan ada 3 pelabuhan, ada KBS, Pelindo, dan Indah Kiat, otomatis kan akan semakin cepat. Intinya kan kapal itu banyak yang datang, pasti kan akan terpecah,” paparnya.

“Dan itu otomatis akan membongkar curah cair, curah kering itu pasti di sini, yang untuk bongkar petikemas pasti larinya ke Tanjung Priok,” lanjut Iman.

Meski begitu, pembangunan pelabuhan Warnasari masih harus menunggu izin dari Kemenhub dan kajian analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Ya kita masih menunggu izin dari Kemenhub, soal JVC dan lain-lain sudah, tinggal menunggu izin Amdalnya dari Kementrian Lingkungan Hidup, ini memang masih panjang. Tapi kita optimis ini diterima,” bebernya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here