Lokasi Pelabuhan di Indonesia Masih Belum Pertimbangkan Aspek Geopolitik

    0
    196
    ilustrasi Pelabuhan Teluk Lamong (atrya.co.id)

    Jakarta – (suaracargo.com)

    Pelabuhan menjadi sketsa perkembangan ekonomi di daratan, sebagai pintu gerbang arus masuk dan keluarnya hasil produksi maupun kebutuhan ekonomi di daratan. Maka, negara-negara maju di dunia menjadikan pelabuhan sebagai salah satu pilar untuk menopang perekonomian negaranya. Bahkan, beberapa negara memanfaatkan letak geografis wilayahnya yang stategis dengan membangun pelabuhan untuk memanfaatkan jalur perdagangan dunia.

    Direktur Maritime Research Institute (MARIN Nusantara) Makbul Muhammad menjelaskan, posisi pelabuhan internasional di Indonesia yang saat ini, seperti Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, Tanjung Mas, dan Pelabuhan Soekarno-Hatta secara geografis berada dalam gugusan kepulauan Indonesia. Alhasil, orientasi pelabuhan internasional tersebut pun hanya bisa dimaksimalkan sebagai tulang punggung konektivitas pelayaran nasional.

    “Historis posisi pelabuhan di Indonesia tidak lepas dari politik maritim kolonial sebagai upaya menghentikan bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim dengan menutup akses Nusantara ke jalur-jalur strategis perdagangan dunia,” ujarnya kepada redaksi dan dilansir rmol.co, Minggu (15/5).

    Ironisnya, setelah 70 tahun merdeka, Indonesia masih mempertahankan posisi pelabuhan internasional di dalam gugusan pulau yang sama sekali mengabaikan unsur geopolitik perdagangan di kawasan maupun dunia. Sehingga mengakibatkan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia tidak menyambut lalu lintas perdagangan dunia seperti di Selat Malaka dan Samudera Pasifik.

    Bahkan, ada beberapa pelabuhan baru yang dikembangkan berbasis teknologi tinggi tetapi masih mengabaikan aspek geopolitik, seperti Pelabuhan Teluk Lamong di Jawa Timur. Padahal, pelabuhan ini disebut-sebut sebagai yang tercanggih di Asia Tenggara, bahkan pihak Singapura pun penasaran dan berkunjung untuk melihat langsung melihat sistem operasi pelabuhan yang dibangun dengan biaya Rp 23 triliun tersebut.

    “Jika pelabuhan berteknologi tinggi ini dibangun di luar gugusan pulau, misalnya seperti di bagian lintasan Selat Malaka maka posisi pelabuhan ini bisa langsung mengakses pengiriman logistik ekspor impor Indonesia tanpa harus melalui pelabuhan transfer logistik di Singapura,” beber Makbul.

    Dia menambahkan, untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dalam dimensi pelabuhan seharusnya mempertimbangkan aspek geopolitik. Misalnya mempertimbangkan bagaimana memanfaatkan posisi silang antar benua dan samudera, dan tentunya memanfaatkan Selat Malaka sebagai jalur perdagangan dunia, dan perkembangan perdagangan dunia di Samudera Pasifik.

    Menurut Makbul yang merupakan alumni Teknik Perkapalan Universitas Hasanuddin, menjadi suatu hal mendesak untuk mengarahkan pembangunan pelabuhan internasional di luar gugusan pulau. Misalnya di wilayah barat Indonesia seperti Sumatera untuk menyambut alur logistik internasional di Selat Malaka, dan pembangunan pelabuhan internasional di timur misalnya di Sulawesi untuk menyambut alur logistik di Samudera Pasifik.

    Konsep pelabuhan pun harus didesain bukan hanya melayani kepentingan distribusi logistik tetapi juga sebagai pelabuhan transit yang dapat memfasilitasi kebutuhan pelayaran internasional, seperti pengisian bahan bakar, kebutuhan pelayaran, pelayanan keagenan kapal, dan reparasi kapal. Agar pelabuhan dapat disinggahi sebagai representasi kebutuhan pelayaran internasional.

    “Dengan merelokasi posisi pelabuhan internasional Indonesia di luar gugusan pulau harus in line dengan penempatan pos-pos pertahanan dan keamanan maritim dengan posisi pelabuhan tersebut. Sebagai upaya mengamankan ekonomi dan kepentingan nasional Indonesia di laut,” demikian Makbul.

    Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

    NO COMMENTS

    LEAVE A REPLY