LPI 2016 Tunjukan Penurunan Peringkat Kinerja Logistik Indonesia

0
672
Ilustrasi Aktivitas bongkar muat peti kemas di Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) Tanjung Priok, Jakarta. (republika.co.id)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyoroti penurunan sebesar 10 peringkat bagi Indonesia dalam Indeks Kinerja Logistik atau Logistic Performance Index (LPI) 2016 versi Bank Dunia.

“Itu adalah berita buruk dalam periode pemerintah berbicara memperbaiki dwelling time,” kata Darmin dalam peluncuran program Urban Logistics and Land Transportation Management Workshop for Leaders and Specialists in Indonesia di Jakarta, Kamis (4/8).

LPI 2016 baru-baru ini diterbitkan. Hasil LPI tersebut menunjukkan, Indonesia berada di peringkat 63 dari 160 negara atau turun 10 peringkat dibandingkan pada LPI 2014. Skor LPI dilihat dari rata-rata enam komponen penilaian, yaitu bea cukai, infrastruktur, pengiriman internasional, kompetensi logistik, pelacakan dan pencatatan, dan aktualitas waktu.

Turunnya peringkat LPI Indonesia karena ada penilaian yang menurun dibanding tahun 2014 lalu. Penurunan terjadi dalam empat komponen, yaitu bea cukai, infrastruktur, kompetensi logistik, dan aktualitas. Darmin juga menyebut, bukan hanya Indonesia saja yang peringkat LPI-nya merosot.

Peringkat LPI 2016 negara-negara ASEAN sebagian besar menurun dibandingkan 2014, hanya Kamboja (83) dan Myanmar (48) yang meningkat dan Singapura (5) tetap. Indonesia juga masih berada di bawah Thailand dan Malaysia.

“Sebetulnya bukan berarti logistiknya memburuk. Penurunan peringkat Indonesia dikarenakan membaiknya kinerja negara lain, seperti Italia, Cina, India, bahkan Tanzania dan Rwanda,” kata Darmin, seperti dilansir republika.co.id.
banner-csm-atas
Untuk tujuan peningkatan peringkat LPI berikutnya, Darmin mengatakan setidaknya ada enam aspek utama dalam membangun sistem logistik nasional, yaitu perbaikan rantai pasok komoditi utama, infrastruktur transportasi logistik, penyediaan pelaku logistik, pengembangan SDM, penerapan teknologi, dan harmonisasi regulasi.

Darmin juga menganggap persoalan utama logistik nasional bukan di rantai distribusi, tapi di komoditas yang tidak ada standardisasi. “Kita juga belum ada pasar pengumpul di daerah penghasil komoditas, tidak cukup hanya pasar induk di perkotaan,” kata dia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here