Maraknya Bisnis Online Turut Tingkatkan Penjualan Kendaraan Niaga

0
276
Ilustrasi truk kontainer (Foto: Mercedez / ccnindonesia.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Para penjual kendaraan-kendaraan niaga, logistik dan angkut tampaknya harus berterima kasih dengan semakin menjamurnya e-commerce. Ragam e-commerce yang bermunculan membuat perilaku konsumen berubah drastis. Hal itu membuat para penjual memerlukan kendaraan sendiri untuk mengantarkan barang.

“E-commerce sedang naik pesat, bahkan cenderung bubble up membantu percepatan laju transportasi dan logistik,” kata Asosiasi Logistik dan Forwader Indonesia Imam Sugandi dalam diskusi “Menstimulus Industri Logistik dan Kendaraan Niaga di Indonesia” di Jakarta, Rabu (26/10).

Meski tumbuh kembangnya industri e-commerce semakin pesat, namun kenaikan belum cukup mendongkrak penjualan kendraan niaga, seperti pikap dan truk. Bahkan, dengan sisa dua bulan di 2016 ini, penjualan unit kendaraan niaga masih berada di angka 47.818 unit, jauh dari tahun 2015 yang membukukan 74.769 unit.

Lesunya penjualan kendaraan niaga tampaknya masih akan berlanjut di 2017. Hal itu bisa diprediksi dari hasil pertemuan antara Menteri Keuangan Sri Mulyani dan pihak Dewan Perwakilan Rakyat yang menargetkan pertumbuhan ekonomi hanya di 5,1 persen yang sebelumnya diprediski bisa di angka 5,3 persen.

“Ada keragu-raguan juga dari pemerintah dalam menentukan target pertumbuhan ekonomi. Saya rasa ini akan berlanjut hingga 2017, tidak akan ada kejutan di tahun depan,” kata pembicara dari Translogtoday.com Heri Lazuardy.

Menurutnya, pasar terbesar yang ada di Jawa dan Bali terkait transportasi logistik sangat mempengaruhi kelancaran bisnis kendaraan niaga. Lemahnya penjualan, selain karena perekonomian yang tidak kunjung membaik, juga dipengaruhi keberadaan pungutan liar semakin menyiksa pihak pelaku industri.

Penyedia kendaraan niaga Tata Motor mengamini lemahnya penjualan yang dirasakan tahun ini. Biswadev Sengupta, Direktur Distribusi Tata Motor mengatakan bahwa pihaknya tengah menargetkan untuk memperkenalkan merek asal India itu ketimbang mendorong penjualan.

“Kami coba untuk realistis dan tidak mengecar market share. Target kami berada di 10 besar jajaran merek yang bermain di kendaraan angkut dan niaga,” kata Biswadev, seperti dilansir CNN Indonesia.

Target itu cukup realistis mengingat, merek-merek ternama yang telah bermain lebih lama di pasar kendaraan niaga ikut tersungkur, khususnya merek-merek dari Jepang.

“Kami sadari Tata Motor baru tiga tahun di Indonesia, kami tidak terlalu berpikir untuk mengejar market share, tapi menjadi merek 10 besar dulu di Indonesia.”

Target Kelam 2017

PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) yang menjadi distributor resmi kendaraan Mitsubishi di Indonesia mencatat, penjualan Light Commercial Vehicle (LCV) atau kendaraan niaga ringan tahun ini turun 20% dibanding realisasi penjualan tahun lalu. Saat ini, pabrikan otomotif asal Jepang itu hanya mampu menjual sebanyak 3.500 unit LCV tiap bulannya.

Penurunan penjualan itu diyakini dampak dari situasi ekonomi tanah air yang belum membaik. Sejumlah sektor yang menjadi penggerak pertumbuhan penjualan LCV juga kurang bagus. Misalnya, sektor pertambangan, sektor perkebunan dan sejumlahj sektor lain yang dalam distribusinya membutuhkan kendaraan pick up atau sejenisnya. Ada sejumlah produk andalan dari Mitsubishi disegmen LCV ini. Diantaranya, Colt T120 SS, L300 dan Strada Triton.

“Mengenai data, secara total dibandingkan tahun lalu ada penurunan 18 persen (periode Januari-September 2016). Tahun lalu mencapai 23 ribuan, ini cukup besar (penjualan tahun 2016),” ujar Deputy Group Head of Field Group PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), Doni Maksudi di Jakarta.

Meski demikian, kembali bergairahnya industri batubara dan perkebunan saat ini juga akan menambah gairah penjualan truk dan membuat target penjualan truk Mitsubishi meningkat.

Doni Maksudi kembali berharap 2016 menjadi titik balik, sehingga penjualan di 2017 bisa terbang tinggi.

“Kita masih meraba-raba untuk tahun depan. Tahun ini katanya akan reborn, ini yang kami harapkan. Ternyata masih turun, namun penjualan baru meningkat di semester ke-3. Mudah-mudahan reborn tahun ini,” kata Doni.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY