Masyarakat Kepri Harapkan Pelabuhan Transhipment Tanjungsauh Juga Masuk Proyek Strategis Nasional

0
174
Pelabuhan Kontainer Batuampar dilihat dari udara. FOTO: seatrade-maritime.com

Batam – (suaracargo.com)

Setelah jalan tol Batam sepanjang 25 kilometer masuk dalam proyek strategis nasional, masyarakat Kepri berharap pelabuhan transhipment Tanjungsauh juga bisa masuk proyek strategis nasional supaya lebih cepat terealisasi.

“Dalam paripurna DPD RI yang saya minta untuk menjadi perhatian pusat adalah Tanjungsauh. Ini sudah terlalu lama prosesnya. Dan ini saya minta segera direalisasikan,” kata Haripinto, senator asal Kepri.

Menurutnya, jika transhipment Tanjungsauh masuk dalam proyek strategis nasional, transhipment itu akan lebih mudah dan lebih cepat masuk dalam kawasan FTZ.

“Kepri khususnya Batam ini membutuhkan pelabuhan itu untuk bisa mengimbangi Malaysia dan Singapura. Ini juga untuk mendukung program FTZ yang sudah ada sekarang,” katanya, seperti dilansir batampos.co.id.

Jika hanya mengandalkan pelabuhan cargo Batuampar saat ini, mother vessel atau kapal-kapal besar tidak akan bisa menampung. Di mana selama ini, kapal-kapal yang bongkar di Batuampar hanyalah kapal-kapal kecil. “Kita meminta dan menggesa ini, agar ada kepastian bagi calon investor yang hendak mengelolanya. Ini penting untuk mendukung investor di Batam,” katanya.

Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono mengakui bahwa pembangunan pelabuhan Tanjungsauh memang sudah mendesak. Pelabuhan Batuampar tidak bisa disinggahi kapal-kapal besar. Sehingga, banyak kapal-kapal besar yang memilih sandar di Singapura. Ia juga berharap agar status lahan Tanjung Sauh masuk dalam kawasan pelabuhan bebas. Hal ini untuk mempercepat rencana pembangunan pelabuhan itu.

“Sebenarnya sudah ada beberapa perusahaan yang berminat baik dari dalam dan luar negeri. Makanya kepastian hukum dalam hal ini harus dipercepat,” katanya.

Ia mengatakan posisi Selat Malaka, sangat strategis untuk menjadikan Batam sebagai pelabuhan kontainer internasional. Jika terealisasi, kargo di Tanjung Sauh, bisa mencapai 8 juta TEUs per tahun.

Dari 55 juta TEUs usaha alih kapal di Selat Malaka, lebih dari 45 juta TEUs dikuasai Singapura, dan 7 juta Malaysia. Sementara Batam baru 400 ribu TEUs dari target 4 juta TEUs.

Pelabuhan Tanjungsauh direncanakan memiliki terminal kargo seluas 1.000 hektare yang disambung dengan jalur darat atau jembatan sepanjang 7 kilometer dari Terminal Kabil.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY