MEA 2015 Cemaskan Menteri Perdagangan

0
371
ilustrasi pelabuhan (industri.bisnis.com)
ilustrasi pelabuhan (industri.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menjelang penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau pasar bebas ASEAN di akhir tahun 2015 ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel merasa cemas. Kecemasan ini karena neraca transaksi perdagangan Indonesia dengan hampir semua negara di ASEAN selalu defisit. Artinya, Indonesia lebih banyak melakukan impor dari negara ASEAN, dibandingkan ekspor. Bila pasar bebas ASEAN berlaku, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi barang-barang asing.

“(Transaksi perdagangan) Indonesia hampir dengan negara ASEAN itu negatif, hanya dengan Filipina kita positif. Bagaimana kita memasuki MEA,” kata Gobel dengan nada cemas saat berdialog dengan pelaku usaha dan pakar ekonomi di Auditorium Utama Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Senin (23/2), sebagaimana dilansir medanbisnis.com.

Pada akhir 2015 nanti, MEA akan diberlakukan. Saat MEA diberlakukan, akan terjadi integrasi 10 negara Asia Tenggara (ASEAN) dalam suatu kawasan ekonomi eksklusif yang menciptakan akses pasar antar negara yang lebih luas. Adapun populasi ASEAN pada 2012 mencapai 617,68 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto kurang lebih sebanyak 2,1 triliun dolar AS. Pada 2012 lalu, pendapatan perkapita di kawasan itu meningkat dari 2.267 dolar AS menjadi 3.759 dolar AS. Selain itu juga ada peningkatan investasi dari investor asing (FDI) dari 92 miliar dolar AS menjadi 114 miliar dolar AS pada 2011.

Gobel juga mengungkapkan, Indonesia merupakan negara dengan pasar terbesar di ASEAN. Sayangnya, produk-produk yang diinginkan dan dihasilkan di dalam negeri jumlahnya terbatas. Sehingga, mau tidak mau serbuan barang impor dengan merek internasional berhasil merebut pasar Indonesia. “Kalau kita tidak siap, ini justru dimanfaatkan pedagang, karena kita pasar paling besar di ASEAN. Kita bahkan bisa defisit meningkat 2 kali lipat karena saat MEA nanti tarif sudah 0%. Kita harus jaga pasar yang besar ini,” paparnya.

Hal yang sama juga diungkapkan pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono. Menurut Tony, Indonesia tidak mampu menahan lonjakan produk impor terutama di sektor migas, elektronik hingga otomotif dari negara-negara ASEAN. “Malaysia sempat surplus di 2011 sekarang defisit. Vietnam juga defisit, Brunei juga kita defisit. Sedangkan Laos flat, Timor Lester masih suplus, Filipina dan Kamboja masih surplus,” tuturnya.

Tidak hanya itu, nilai ekspor Indonesia dari tahun ke tahun juga terus menurun. Di 2011 nilai ekspor Indonesia US$ 204 miliar, lebih besar dibandingkan ekspor 2013 sebesar US$ 183 miliar, dan jauh lebih besar dibandingkan 2014 lalu sebesar US$ 176 miliar. “Di kawasan ASEAN, tujuan ekspor kita paling besar masih ke Singapura US$ 16 miliar meskipun masih tetap defisit,” tukasnya.

Berdasarkan data pemaparan para narasumber yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2014 saja, Indonesia mencatat defisit perdagangan dengan negara-negara di kawasan ASEAN sebesar US$ 45,8 juta. Sedangkan secara keseluruhan, sejak Januari hingga November 2014, defisit RI-ASEAN mencapai US$ 1,07 miliar.

Mayoritas ekspor Indonesia menuju negara-negara ASEAN menurun. Contohnya pada November 2014, ekspor ke Singapura hanya US$ 717 juta atau turun 11,87% dibandingkan Oktober 2014 US$ 813,7 juta. Begitu pula dengan negara lainnya seperti Malaysia, ekspor non migas anjlok 14,35% dari US$ 590,7 juta menjadi US$ 506,0 juta. Dengan Thailand, ekspor Indonesia juga melorot 11,84% menjadi US$ 371,9 juta dari posisi US$ 421,8 juta.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here