Menhub Jonan Minta Kapasitas Kapal di Ketapang Minimal 1.000 GT

0
374
Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. TEMPO/ NURDIANSAH
Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. TEMPO/ NURDIANSAH

Banyuwangi – (suaracargo.com)

Menteri Perhubungan Ignatius Jonan mengatakan, tiga hingga empat tahun mendatang, kapasitas kapal-kapal yang beroperasi di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur dan Pelabuhan Gilimanuk, Bali harus ditambah hingga minimal sampai 1.000 gross tonage (GT). “Tadi saya naik kapal bobotnya cuma 560 GT,” kata Jonan ketika blusukan di Pelabuhan Ketapang, Sabtu malam, 27 Desember 2014.

Menurut Jonan, bila dilayani kapal-kapal berkapasitas besar, antrian sandar di dermaga bisa berkurang. Jonan memberi waktu maksimal hingga empat tahun agar perusahaan siap untuk berinvestasi. Apalagi, kepadatan penumpang biasanya hanya berlangsung di hari-hari tertentu, seperti Lebaran dan liburan sekolah. “Kalau pesawat gampang, tinggal sewa. Tapi kalau kapal ferry kan tidak bisa,” kata dia.

Menteri Jonan blusukan ke Banyuwangi usai melakukan sejumlah kunjungan di Pulau Bali. Bersama jajaran pejabat di Kementerian Perhubungan, dia menumpang bus, lalu menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali menuju Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 20.00 WIB. Di sana, Jonan memeriksa fasilitas kapal, dermaga serta fasilitas umum lainnya.

Manajer Operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan Ketapang Saharudin Koto mengakui, 45 kapal yang beroperasi masih berkapasitas antara 500 hingga 800 GT. “Tapi kami siap melaksanakan intruksi menteri,” kata dia, sebagaimana dilansir tempo.co.

Seluruh infrastruktur seperti dermaga, kata Saharuddin, sebenarnya bisa melayani kapal berkapasitas hingga 2 ribu GT. Antrian kapal terjadi karena PT ASDP hanya memiliki lima dermaga, tidak sebanding dengan jumlah kapal yang beroperasi. Dahulu, penyeberangan di Selat Bali hanya butuh waktu 30 menit, tapi saat ini butuh waktu 1 jam.

Sekretaris Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Penyeberangan dan Ferry (Gapasdaf) Banyuwangi, Novi Budianto, mengatakan kemungkinan pengusaha akan melakukan modifikasi terhadap kapal-kapal yang telah ada. Sebab, bila harus membeli kapal baru akan membutuhkan investasi yang lebih besar. Modifikasi kapal tersebut, yang dilakukan untuk menambah kapasitas, tetap harus melewati pemeriksaan dari Biro Klasifikasi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. “Kalau dinyatakan laik, maka bisa beroperasi,” katanya.

Namun, menurut Novi, biasanya antrian di Pelabuhan Ketapang hanya terjadi di hari-hari tertentu. Dalam hari normal, enam sampai tujuh kapal akhirnya terpaksa berhenti karena penumpang sepi. Menurutnya, kebijakan memperbesar kapasitas kapal tetap harus diimbangin dengan menambah jumlah dermaga.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here