Menhub: Peresmian Pelabuhan Kalibaru Tunggu Keputusan Presiden

0
234
Foto aerial proyek pembangunan Pelabuhan Kalibaru atau Terminal New Priok di Kalibaru, Jakarta Utara, Senin (18/1). PT Pelindo II menyatakan trial operation Container Terminal 1 New Priok yang mampu disandari kapal berukuran 20.000 TEUs siap diluncurkan pada akhir Januari 2016 dan akan disusul dengan pengoperasian secara penuh pada Juli 2016. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/ama/16.

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, peresmian Pelabuhan Kalibaru atau New Priok Container Terminal One (NPCT1) yang merupakan fase 1A dari keseluruhan Proyek New Priok Container Terminal masih menunggu keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas. Demikian disampaikan oleh Budi saat melakukan peninjauan Pelabuhan Kalibaru atau New Priok Container Terminal One (NPCT1), Jakarta Utara, Sabtu (27/8/2016).

banner-csm-atas

Sementara itu, Direktur Utama PT Pelindo II Elvyn G Masassya menyambut dengan baik kunjungan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi beserta jajarannya ke Pelabuhan Kalibaru atau New Priok Container Terminal One (NPCT1). NPCT1 merupakan fase 1A dari keseluruhan Proyek New Priok Container Terminal yang secara komersial telah beroperasi sejak Kamis, 18 Agustus 2016. “Commercial Operation NPCT1 ini diharapkan dapat diresmikan oleh Presiden Republik lndonesia, Joko Widodo, dalam waktu dekat,” kata Elvyn.

NPCT1 memiliki luas lahan kurang lebih 32 Ha dan kapasitas sebesar 1,5 juta TEUs per tahun. Total panjang dermaga 850 meter pada akhir 2016 dan kedalaman -14 meter LWS (akan dikeruk secara bertahap hingga -20 meter). “Terminal baru ini diproyeksikan untuk dapat melayani kapal petikemas dengan kapasitas 13 ribu 15 ribu TEUs dengan bobot di atas 150 ribu DWT,” katanya. Elvyn menambahkan Pelabuhan Kalibaru tersebut akan dikembangkan dan dioperasikan oleh salah satu perusahaan IPC Group yaitu PT New Priok Container Terminal One. “NPCT1 merupakan terminal petikemas pertama dalam pembangunan Fase 1 Terminal New Priok yang terdiri atas tiga terminal petikemas dan dua terminal produk.” katanya, seperti dilansir okezone.com.

Dia menjelaskan, pembangunan Fase 2 Terminal New Priok akan dilaksanakan setelah pengoperasian Fase 1 New Priok Ketika proyek New Priok telah selesai, lanjut dia, akan ada total tujuh terminal petikemas dan dua terminal produk dengan area pendukungnya yang memiliki total area 411 hektare. “Saat ini fokus kami ada pada empat area, yakni meneruskan hal-hal yang baik (going concern), menyesuaikan hal-hal yang perlu disesuaikan (governance), menyelesaikan hal-hal yang perlu diselesaikan (pending matters), dan memperkenalkan hal-hal baru (business development),” katanya. Dalam konteks yang lebih luas, dia menuturkan, sebagai upaya mendukung percepatan dan pemerataan pembangunan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, perusahaan terus menggiatkan berbagai program untuk modernisasi pelabuhan-pelabuhan eksisting maupun membangun pelabuhan-pelabuhan baru di berbagai lokasi.

“Ke depannya akan terus berkomitmen pada sisi penawaran atau menyediakan kapasitas kepelabuhanan dengan menjalankan berbagai proyek investasi besar sesuai dengan proyeksi permintaan pasar yang disesuaikan dengan kondisi terakhir,” katanya. Empat proyek yang telah diinisiasi oleh Pelindo II telah masuk dalam daftar proyek strategis yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No 3 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional tangal 8 Januari 2016, yaitu Inland Waterways (Cikarang-Bekasi-Laut Jawa atau CBL), Pelabuhan Sorong, Pelabuhan Kalibaru dan Pelabuhan Kijing.

Untuk mencapai visi tersebut, Elvyn telah menyiapkan peta jalan (roadmap) menuju visi yang ditajamkan untuk menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia, unggul dalam operasional dan pelayanan, melalui tiga fase pertama yaitu fit in infrastructure (sesuai dengan infrastruktur), enhancement (peningkatan) dan establishment (penetapan).

Pelindo II tahun ini memasuki fase pertama corporate roadmap, yaitu fit in infrastructure, dengan fokus pada penataan tata kelola atau governance yang mencakup proses bisnis, SOP dan struktur, budaya perusahaan, restrukturisasi korporasi dan model bisnis dan mendefinisikan kembali bisnis yang disertai dengan penyelarasan (fine-tuning) dalam semua aspek. “Untuk mencapai hal ini tentu saja perusahaan membutuhkan kolaborasi dan dukungan penuh Pemerintah maupun para pemangku kepentingan lain, pada kesempatan ini kami berterima kasih pada Kementerian Perhubungan khususnya, atas dukungan yang diberikan pada proyek-proyek kepelabuhanan kami,” katanya.

Ke depannya nanti, dia berharap agar dapat dibangun keselarasan persepsi dalam menangani berbagai isu sektor kepelabuhanan di Indonesia. Persepsi yang disamakan termasuk dalam kapasitas, kinerja, teknologi informasi, aksesibilitas hinterland, konektivitas antar moda, hingga perencanaan yang belum terintegrasi. “Besar harapan kami kolaborasi antarinstitusi dan pelaku usaha di bawah koordinasi Kementerian Perhubungan dapat membawa kita semua ke langkah-langkah yang mengoptimalkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia,” katanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY