Menko Kemaritiman: Dwelling Time di Pelabuhan Tanjung Priok Capai 4,3 Hari

0
302
Proses bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) Jakarta (tribunnews.com / Hendra Gunawan)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyatakan, proses bongkar muat di pelabuhan (dwelling time) terutama di Pelabuhan Tanjung Priok kini sudah mencapai 4,3 hari. Rizal menyaimpaikan pernyataan itu seusai menggelar rapat terbatas (ratas) dengan Presiden Joko Widodo. Pencapaian ini, kata Rizal, jauh lebih baik dari waktu bongkar muat pada awal 2015 yang mencapai 6-7 hari.

Rizal menjelaskan banyak hal yang telah dilakukan selama ini untuk mempersingkat waktu bongkar muat. Salah satu hal yang dilakukan adalah penyederhanaan berbagai regulasi, mulai dari pengubahan aturan, hingga penghapusan aturan. “Kita hapuskan 18 peraturan Menteri Perdagangan, 1 PP dari Kemenperin, dan 19 permenperin, dari BPOM 2 peraturan kepala, dan dari Bea Cukai dihapuskan tiga peraturan menteri, dan dua peraturan menteri diubah,” kata Rizal Ramli di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/12/2015).

Selain penyederhanaan regulasi, cara lain yang dilakukan untuk menurunkan waktu bongkar muat yaitu dengan merapikan jalur-jalur di bea cukai, seperti jalur hijau dan jalur merah. Dengan menerapkan cara ini, pemeriksaan fisik kontainer tidak boleh lebih dari 24 jam.

Sementara itu, untuk lebih mengurangi angka dwelling time, Rizal mengusulkan penerapan denda yang diberlakukan kepada para pelaku usaha yang terlalu lama menahan kontainer di terminal.

“Menhub telah mengeluarkan peraturan, bahwa penimbunan kontainer paling lama hanya tiga hari setelah pemeriksaan, gratis, habis diperiksa, tiga hari boleh disimpan, lebih dari itu kita minta denda Rp 5 juta,” papar Rizal, seperti dilansir liputan6.com. Namun, masih menurut Rizal, besarnya denda saat ini masih dibahas di internal Kementerian BUMN. Usulan denda tersebut masih terganjal penolakan dari PT Pelindo II. Dia meminta Menteri BUMN untuk segera merampungkannya.

Upaya lain yang bakal dilakukan pemerintah adalah membangun jalur kereta langsung ke terminal petikemas. Diharapkan usai dilakukan pemeriksaan fisik, kontainer dapat langsung diangkut menggunakan kereta api. “Nah, PT KAI sudah membangun rel KA, 45 persen pengerjaan sudah selesai. Diharapkan kereta api pelabuhan akan mulai beroperasi akhir Februari 2016. Kalau ini dilakukan maka dwelling time akan berkurang satu hari lebih, dan kemacetan di Tanjung Priok juga akan berkurang,” ujar Rizal.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here