Menko Kemaritiman Rizal Ramli Siap Benahi Dwelling Time

0
366
ilustrasi peti kemas (kompas.com/Heru Sri Kumoro)
ilustrasi peti kemas (kompas.com/Heru Sri Kumoro)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengaku, akan membenahi masalah dwelling time atau bongkar barang di pelabuhan. Menurutnya, persoalan dwelling time merupakan persoalan yang tidak asing lagi bagi dirinya.

“Minggu depan, kita bahas membedah, hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dwelling time,” kata Rizal di kediamannya di Jakarta, Minggu (23/8/2015).

Rizal menyebutkan, semasa masih menjabat sebagai Menko Perekonomian, dirinya pernah membuat jalur merah dan jalur hijau di Ditjen Bea Cukai sebagai syarat pengecekan barang-barang impor yang akan masuk ke Indonesia.

“Kalur hijau itu artinya importirnya terpercaya, tidak aneh-aneh, nggak neko-neko, nyaris lewat begitu saja, misal importir dari industri otomotif. Yang lain itu jalur merah, walau pun jumlahnya kecil, sering diperiksa, ini jadi permainan,” tambahnya.

“kami akan meminta supaya yang masuk jalur hijau lebih banyak. Kan ketauan importirnya, itu yang nggak aneh-aneh, apa, sesuai dengan spesifikasinya. Kan sudah ketauan track record-nya. Kita tingkatkan jumlah importir jalur hijau,” sambungnya.

Selain itu, Rizal menuturkan bahwa dia akan membenahi penerapan harga dwelling time di pelabuhan, salah satunya pada biaya simpang kontainer di pelabuhan yang saat ini masih relatif murah.

“Kalau terlalu murah orang seneng aja nitip kontainer dua bulan tiga bulan nggak diambil. Jadi kita perbaiki pricing policy-nya agar orang cepet angkat kontainer, ujar dia, seperti dilansir okezone.com.

Lalu, kata Rizal, dirinya juga akan membenahi sistem pendistribusian di pelabuhan. Salah satu contohnya adalah dengan memberikan fasilitas jalur kereta api khususnya barang untuk bisa masuk ke pelabuhan.

“Di seluruh dunia langsung ada jalur kerta api di loading anf loading kontainer, jadi lebih cepet keluarinnya, dan nggak bikin macet Tanjung Priok. Kami akan menegaskan, minta yang terkait agar jalur kereta bisa langsung uploading dan unloading, agar supaya beban kemacetan tanjung priok berkurang,” kata Rizal.

Tidak hanya itu, Rizal mengungkapkan, untuk mengatasi persoalan dwelling time di pelabuhan, pemerintah akan membenahi sistem teknologi yang ada saat ini.

“Kalau kita di luar negeri, cari kontainer saya, saya tahu itu di E 234. Pasti tahu. Kita sistem ICTnya nggak canggih, sengaja dibikin ribet,” tandasnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here