Menko Maritim: Pengelolaan Pelabuhan Perlu Lebih Efisien

0
394
Suasana aktvitas bongkar muat di Terminal Laut Teluk Lamong, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/ed/mes/15

Surabaya – (suaracargo.com)

Di sela kunjungannya ke Gresik dan Surabaya, Senin (20/3/2017) kemarin, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, juga meminta kepada pihak pelabuhan untuk lebih efisien dalam pengelolaan.

Hal itu diutarakan oleh Luhut sewaktu dirinya dan rombongan berkunjung ke Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Saat kunjungan tersebut, salah satu saran yang diberikan Luhut kepada pihak pengelola Terminal Teluk Lamong adalah pembukaan akses untuk truk yang berbahan bakar non-gas.

“Tujuannya, untuk meningkatkan keuntungan pelabuhan itu sendiri. Dan saya kira, manajemen Pelindo III memahami hal ini dengan menghitung cash flow,” ucap Luhut.

Dengan mengutamakan penerimaan masuk truk berbahan bakar non-gas tersebut, keuntungan yang didapat pihak pengelola Terminal Teluk Lamong maupun pelabuhan yang lain diharapkan akan meningkat.

“Sehingga dengan begitu, pelabuhan akan bisa lebih efektif dalam pengelolaan dan sudah pasti akan meningkatkan keuntungan,” jelasnya.

Masukan dari Luhut tersebut mendapat sambutan positif dari pihak pengelola Terminal Teluk Lamong. Pihak pengelola menyatakan bahwa mereka sudah tidak lagi hanya menerima truk yang berbahan bakar murni gas melainkan melakukan perpaduan.

“Akses untuk truk berbahan bakar non-gas sudah mulai kami buka, dengan cara melakukan registrasi setiap truk yang akan masuk,” tutur Direktur Teknik Terminal Teluk Lamong Robby Dayoh, di dampingi Muhammad Iqbal selaku Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis Pelindo III.

Registrasi tersebut dilakukan oleh pihak pengelola Terminal Teluk Lamong, untuk memenuhi standar emisi gas buang Euro-4 yang memenuhi konsep hijau (green port). Terlebih konsep green port saat ini, tengah menjadi isu global.

“Intinya, truk berbahan non-gas tetap bisa masuk Terminal Teluk Lamong, tapi harus memenuhi standar emisi gas buang Euro-4,” tegas Robby.

Ia juga menuturkan, sampai saat ini sudah ada sekitar 5000-an truk yang sudah teregistrasi, di mana proses terus berlangsung. Hal ini akan terus dilakukan, karena Terminal Teluk Lamong sudah dikenal publik dengan sistem operasi otomatis dan ramah lingkungan. Dengan sebagian besar peralatannya, digerakkan dengan bantuan tenaga listrik dan gas.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here