Menko Perekonomian: Kinerja Logistik Indonesia Tertinggal Jauh

0
250
ilustrasi pos logistik (enciety.co)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, kinerja logistik Indonesia saat ini berada di posisi 53 dunia. Posisi ini tertinggal jauh dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand. “Indonesia sedikit lebih baik dibanding India, beda tipis bahkan hampir-hampir tidak berbeda,” kata Darmin dalam paparan Tempo Economic Briefing di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Selasa 17 November 2015.

Darmin menuturkan, logistik merupakan gabungan dari banyak hal yang terlihat sederhana. Namun sebetulnya, banyak komponenen logistik yang sulit untuk dikelola. Untuk menghitung skor posisi kinerja logistik, terdiri dari gabungan sistem kepabeanan, infrastruktur, international shipment (angkutan barang), kompetensi logistic, dan timeline. “Ada begitu banyak, maka tidak heran kalau butuh banyak hal yang harus dilakukan agar mencapai perbaikan yang berarti,” katanya, seperti dilansir tempo.co.

Darmin menuturkan, terdapat sejumlah prosedur dalam sistem logistik yang harus disederhanakan. “Kita sebenarnya sedang mencari terobosan untuk keluar dari hal yang complicated,” kata Darmin sembari menambahkan bahwa pemerintah mencoba berfokus mendorong penyederhanaan tersebut. Salah satunya dengan membangun tidak hanya kawasan berikat dan industri, tetapi juga kawasan logistik berikat dengan berbagai fasilitas, serta kawasan ekonomi khusus (KEK) yang masuk dalam paket kebijakan beberapa waktu lalu.

Darmin menyoroti perubahan sistem Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) dari Freight on Board (FOB) menjadi Term of Delivery Cost, Insurance & Freight (CIF). “Ini tidak mudah mengubahnya, karena dibutuhkan sarana, kompetensi, dan masih banyak hal lain,” kata Darmin.

FOB menganut sistem dimana ketika melakukan pembelian barang semua biaya pengiriman, asuransi dan harga barang dibayarkan importir setelah kapal sampai atau di pelabuan bongkar di negara tujuan.Sedangkan sistem CIF adalah sistem pembelian barang, biaya pengiriman, asuransi dan harga barang dibayarkan sebelum kapal berangkat atau di pelabuhan muat.

Menurut Darmin, masih banyak hal yang harus dibenahi dalam sistem logistik Indonesia, khususnya untuk menunjang kinerja ekspor dan impor. “Ekspor kita sejak zaman merdeka peranan kita cuma sampai di pelabuhan, setelah itu tidak tahu lagi,” ujar Darmin.

Darmin mengatakan dengan sistem CIF, validitas dan akurasi data kegiatan ekspor akan tercatat dan dalam jangka panjang diharapkan akan mendorong pengembangan bisnis jasa transportasi dan asuransi di dalam negeri.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY