Meski Lokasinya Dipindah, Jepang Tetap Minat Investasikan Dana Untuk Bangun Pelabuhan Cilamaya

0
321
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Dubes RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra, di dalam kereta Shinkansen, rute Sendai-Tokyo, sesudah menghadiri Konferensi PBB tentang Bencana di Sendai, Sabtu (14/3/2015). Wapres mewakili Presiden menjadi pembicara dalam forum PBB tersebut.
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Dubes RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra, di dalam kereta Shinkansen, rute Sendai-Tokyo, sesudah menghadiri Konferensi PBB tentang Bencana di Sendai, Sabtu (14/3/2015). Wapres mewakili Presiden menjadi pembicara dalam forum PBB tersebut.

Jakarra – (suaracargo.com)

Walaupun proyek pembangunan pelabuhan yang semula berlokasi di Cilamaya akhirnya dipindahkan, Jepang tetap berminat untuk berinvestasi. Pada hari Rabu (08/04/21015), Ketua Keidanren Jepang Sadayuki Sakakibara menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden di Jakarta.

“Jadi ada rencana dari pemerintahan kita akan digeser ke timur, Jepang tentu berharap bisa dilakukan, kalau Indonesia hendak dijadikan basis ekspor, jadi butuh pelabuhan, jadi kalau digeser ke timur Jepang tetap minat,” kata Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Yusron Ihza Mahendra di Istana Wapres, Jakarta.

Menurut Yusron, Jepang berharap bisa membantu Indonesia menjadi basis ekspor. Untuk tujuan tersebut, menurut Yusron, Indonesia perlu membangun pelabuhan yang layak. Di samping membahas proyek pelabuhan, dalam pertemuan tersebut, Wapres dan Keidanren juga membicarakan proyek kerjasama lainnya seperti pembangkit listrik serta proyek kereta peluru atau shinkansen.

“Tadi bicara listrik yang sangat besar kekurangan kita. Bicara perumahan, industri makanan, transportasi, bandara, dan disinggung kereta peluru shinkansen,” ucap Yusron, sebagaimana dilansir kompas.com.

Menurut dia, pertemuan Wapres dengan Keidanren hari ini untuk menindaklanjuti pertemuan pimpinan kedua negara yang berlangsung di Jepang beberapa waktu lalu. Pertemuan demi pertemuan yang dilakukan Jepang dengan Indonesia, kata dia, menunjukkan keseriusan Jepang untuk berinvestasi. “Dalam waktu dekat, Mei, ada dua misi lagi yang datang ke Indonesia. Salah satunya Japinda (Asosiasi Persahabatan Jepang-Indonesia) yang dipimpin mantan PM Jepang Fukuda,” tutur Yusron.

Ia juga menyampaikan bahwa Jepang cenderung melakukan investasi ke luar negeri mengingat investasi dalam negeri Jepang sudah mencapai titik jenuh. Lebih dari 20 tahun lalu, kata dia, bunga bank di Jepang 0 persen sehingga lebih baik menggunakan uang untuk berinvestasi dibandingkan dengan menyimpannya di bank.

“Tapi masalah yang dihadapi untuk investasi di dalam negeri, Jepang posisinya sudah jenuh. Bangunannya tinggi sudah ada, jumah penduduk menurun, sehingga uang dalam negeri cenderung diinovasikan ke luar negeri shingga dengan begitu memberi peluang untuk Indonesia mendapatkan investasi Jepang. Tinggal bagaimana memberikan tawaran yang baik bagi mereka hingga dapat membuat mereka merasa aman dan nyaman berinvestasi,” tutur Yusron.

ilustrasi: kompas.com

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here