Meski Sudah Ada Persaingan Usaha Peti Kemas, Harga Barang di Berau Masih Tinggi

0
21
Dermaga Pelabuhan Tanjung Batu (beraukab.go.id)

Berau – (suaracargo.com)

Hingga kini harga berbagai kebutuhan di Kabupaten Berau masih dirasa cukup mahal, termasuk harga kebutuhan pokok. Pasalnya, hampir semua kebutuhan masyarakat Berau didatangkan dari luar daerah.

Awalnya, masyarakat menuding, mahalnya harga barang-barang di Kabupaten Berau disebabkan monopoli yang dilakukan oleh salah satu jasa pengangkutan petikemas. Saat itu, hanya ada satu perusahaan pengangkutan petikemas.

Namun setelah memberikan izin perusahaan petikemas yang lain yang diharapkan bisa memunculkan persaingan positif yang bisa menekan biaya transportasi, harga kebutuhan masi tetap mahal.

Kepala Bagian Fasilitas Pelabuhan Syahbandar Berau, Abdurahman mengatakan, pihaknya bersama pengusaha petikemas sejak awal tahun 2018, telah menurunkan tarif, dari Rp 17,5 juta menjadi Rp 12,5 juta, atau mengalami penurunan Rp 5 juta untuk setiap petikemas.

“Saat saya menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD tahun 2017, kami diminta untuk menurunkan tarif petikemas dan sudah kami lakukan. Dan kami juga meminta agar Pemkab Berau untuk segera menurunkan harga barang,” ujar Abdurahman saat ditemui Tribunkaltim.co.

Menurutnya, cara ini harus dilakukan guna memastikan apa saja faktor yang membuat harga barang di Kbaupaten Berau sangat mahal.

”Kami tidak ingin harga jual mahal, karena tarif bongkar-muat barang mahal. Karena itu kami turunkan tarifnya, seharusnya sejak awal tahun 2018 harga barang juga turun,” ungkapnya.

Sementara, para distributor barang mengaku, masih memiliki stok barang selama tiga bulan, stok barang tersebut masih dikenakan tarif lama, yang dirasa masih mahal.

Namun setelah tiga bulan berlalu, tidak ada penurunan harga kebutuhan masyarakat, seperti bahan pokok, bahan bangunan, elektronik maupun barang-barang keperluan lainnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo mengatakan, turunnya tarif petikemas, berakibat pada turunnya harga jual barang. “

Kalau tarif pengiriman barang sudah turun, tapi harga barang tidak turun, berarti kita cuma menambahi keuntungan pedagang,” kata Agus, Selasa (17/4/2018).

Padahal kata Agus Tantomo, upaya penurunan tarif petikemas diharapkan dapat mengurangi beban masyarakat.

“Kita harus periksa ulang, apakah harga barang yang dijual dengan harga tinggi itu, stok lama atau baru. Saya akan minta Disperindagkop untuk turun tangan. Saya juga akan turun melakukan inspeksi mendadak,” tandasnya.

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: M. Nahar

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here