Operasional 7 Pelabuhan Akan Terintegrasi Kawasan Industri

0
442
Pelabuhan Tanjung Priok - Ilustrasi (industri.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengumpulkan para Direktur Utama Perusahaan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) di kantornya. Efisiensi jalur tol laut jadi pokok bahasan mereka dalam pertemuan tersebut.

Luhut juga mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan kelanjutan dari tinjauannya ke Pelabuhan Tanjung Priok, kemarin. “Kita tindak lanjuti yang kemarin di Priok (kunjungan Pelabuhan Tanjung Priok). Kita mau integrasikan jadi tol laut agar efisien,” ujarnya, Selasa (24/1/2017).

Pertemuan ini berlangsung secara tertutup. Turut hadir dalam rapat, Direktur Utama Pelindo I Bambang Eko, Direktur Utama Pelindo II Elvyn G Masassya, Direktur Utama Pelindo III Orias Petrus, dan Direktur Utama Pelindo IV Doso Agung.

Usai pertemuan, Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Elvyn G. Masassya menyatakan bahwa Menteri Luhut mendorong integrasi pelabuhan dengan kawasan industri atau Indonesia Integrated Chain Port.

Integrasi ini, menurut Elvyn, bertujuan untuk efisiensi biaya pengiriman yang ujung -ujungnya akan meningkatkan daya saing produk Indonesia. “Kita akan mendetailkan lagi konsep yang kami usulkan, yaitu Indonesia integrated chain port,” ujarnya, seperti dilansir katadata.co.id.

Elvyn menyebut, ada tujuh pelabuhan yang operasionalnya akan diintegrasikan dengan kawasan industri di dekatnya. Ketujuh pelabuhan tersebut adalah Kualatanjung, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Tanjung Emas, Pontianak, Bitung, dan Sorong.

Menurutnya, tujuan utama dari Indonesia Integrated Chain Port ini sebetulnya untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing. Ia mencontohkan, efisiensi bisa diperoleh dengan mengatur kargo dari berbagai wilayah di Pelabuhan Tanjung Priok sebelum dikirim ke luar negeri. Sebab, ada penghematan biaya handdling dan freight di terminal.

Sebelumnya, sesuai dengan keputusan Menteri Perhubungan, Pelabuhan Tanjung Priok akan dijadikan lokasi transhipment atau pemindahan muatan kapal Internasional. “Ada karakteristik khusus, misalnya kalau dari Bitung ke Manila masa mau ke Jakarta dulu. Tapi in general untuk transhipment internasional itu dari Priok,” kata Elvyn.

Menurut perhitungan Elvyn, transhipment di Tanjung Priok akan menekan biaya pengiriman hingga Rp 1,5 juta per kontainer ketimbang di Singapura. “Jadi Jakarta ini akan menggantikan Singapura sebagai pelabuhan transhipment,” katanya. Hal itu akan menguntungkan bagi para eksportir Indonesia.

Sementara dari sisi produktifitas, ia mengatakan jumlah barang yang bisa didistribusikan bisa lebih banyak karena pelabuhan-pelabuhan ini melayani kapal besar. “Kapal ini bisa dilayani di 7 pelabuhan karena tingkat kedalamannya sama dan peralatannya juga sama,” katanya.

Untuk menyamakan standar pelabuhan, Pelindo 1,2,3,dan 4 akan melakukan perhitungan secara bertahap. “Setelah ini disepakati kita akan melakukan perhitungan di tujuh pelabuhan itu. Berapa total biaya pengerukan berapa pembiayaannya dan ini dilakukan bertahap,” ujar Elvyn.

Penulis: Muhammad Firman Eko Putra
Editor : M. Nahar

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here