Optimalkan Tujuh Pelabuhan Tol Laut Sokong Arus Barang

0
614
ilustrasi kapal cargo (sinarharapan.co)
ilustrasi kapal cargo (sinarharapan.co)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pemerintah dapat mengoptimalkan sekitar tujuh pelabuhan utama yang dilewati jalur tol laut sebagai pintu masuk utama ekspor-impor barang di Indonesia. Apalagi saat ini, masih terjadi ketidakseimbangan arus muatan antara barat dan timur dalam pelaksanaan tol laut. Hal tersebut memacu tingginya biaya logistik di Tanah Air.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi mengatakan, dari banyak pelabuhan yang dibuka untuk lalu lintas ekspor-impor barang, pemerintah dapat memisahkan pintu ekspor-impor berdasarkan negara tujuan dan asal.

Ada tujuh pelabuhan utama yang bisa dilewati sebagai jalur tol laut, yakni Pelabuhan Kuala Tanjung, Pelabuhan Batam, Pelabuhan Tanjung Priok, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar, Pelabuhan Bitung, dan Pelabuhan Sorong. Ketujuh pelabuhan utama tersebut idealnya terhubung dengan 67 pelabuhan pelayaran jarak pendek (short sea shipping).

“Seperti Kuala Tanjung, pelabuhan itu dapat berperan sebagai pintu wilayah barat yang dikhususkan bagi negara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Pelabuhan Bitung digunakan sebagai pintu di wilayah timur bagi Tiongkok, Korea, Jepang, Amerika Serikat (AS), dan sebagainya,” tuturnya, Minggu (5/7).

Butuh Insentif

Ia berpandangan, pemerintah seharusnya mendukung kebijakan tol laut dengan memberikan insentif sebagai kompensasi industri pelayaran. Insentif tersebut diberikan atas kerugian operator karena arus muatan yang belum seimbang.

Saat pengiriman barang dari barat ke timur, muatan kapal bisa 80-90 persen. Tetapi, saat kembali, kapal hanya memiliki muatan 20-30 persen dari kapasitas. Hal inilah yang selanjutnya memicu inefisiensi dan pembengkakan ongkos logistik.

Dengan kondisi tersebut, ia melanjutkan, pemerintah perlu memberikan subsidi bagi kontainer kosong dari timur ke barat. Tentunya, hal ini dilakukan sembari membangun pusat industri di wilayah timur. Tol laut diharapkan menjadi pendorong bagi pertumbuhan wilayah melalui akses pengiriman barang dari kawasan timur Indonesia (KTI) maupun sebaliknya.

Ketua Bidang Komunikasi Publik Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Milatia Kusuma juga mengusulkan, pelabuhan di Papua bisa dimanfaatkan sebagai pintu masuknya impor daging sapi dari Australia. “Misalnya daging sapi dari Australia, kan dekatan lewat Irian [Papua]. Daging impor masuk lewat pelabuhan di Irian jadi kapal-kapal pasti balik bawa barang ke Jakarta,” ucapnya, sebagaimana dilansir sinarharapan.co.

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV, Mulyono mengatakan, implementasi tol laut yang dimulai pada April tahun lalu hingga Mei 2015 menghasilkan penghematan 40 persen atau senilai Rp 520 miliar. Ia menyebutkan, perjalanan dari Bitung ke Belawan yang sebelumnya harus mengganti kapal dan membongkar muat selama 3 -4 hari di Pelabuhan Tanjung Priok, kini bisa langsung tanpa double handling.

Namun, pemerintah perlu memberikan stimulus berupa tax holiday atau insentif lain agar investor terlarik mengembangkan kawasan industri di KTI. Ini karena ongkos investasinya lebih tinggi 25-50 persen ketimbang di Indonesia barat.

Penyempurnaan

Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto menambahkan, tol laut yang sekarang sudah berjalan masih perlu disempurnakan. Waktu tunggu sandar kapal, terutama di KTI, masih mengalami antrean yang diakibatkan dermaga kapal yang masih kurang.

“Pemerintah menyediakan dana buat infrastruktur, nggak? Subsidi masih kurang juga. Saya butuh kebijakan yang nggak pakai duit, yaitu fiskal dan moneter,” ujarnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here