Organda Minta Angkutan Pelabuhan Direvitalisasi

0
348
ilustrasi penumpukan peti kemas

Jakarta – (suaracargo.com)

Angkutan barang di Pelabuhan yang tidak layak pakai diminta oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organda untuk direvitalisasi. Tujuan revitalisasi angkutan tersebut adalah untuk mempercepat proses dwealing time yang ada di Pelabuhan.

Ketua DPP Organda, Andrianto Joko Sutono meminta kepada kepengurusan baru Dewan Pimpinan Unit (DPU) Angkutan Khusus Pelabuhan Organda DKI untuk melakukan revitalisasi angkutan, khususnya angkutan pelabuhan yang sempat vakum kurang lebih dua tahun. Kepentingan para pengguna jasa angkutan itu harus diperhatikan dengan baik.

“Diharapkan Angsuspel dapat merevitalisasi kepentingan pengguna jasa pelabuhan serta kepentingan pengguna jasa pelabuhan dan pengusahanya, jangan sampai mereka tidak terakomodasi,” kata Andri di Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Dia mengatakan pula bahwa Organda harus bisa menjadi jalan tengah antara kepentingan pemerintah, pengusaha dan pengguna jasa pelabuhan. Karena, bukan hanya kepentingan pemerintah dan pengusaha saja yang harus diperhatikan, kepentingan pengguna jasa juga perlu diakomodir.

“Semoga jalur komunikasi pengguna, pemerintah dan pengusaha berjalan dengan baik serta terus erat kordinasinya. Sebab, yang namanya angkutan tidak mungkin laut dan udara saja, jadi angkutan darat ini justru suatu yang wajib juga terkordinasi dengan baik,” ujarnya, seperti dilansir wartakota.tribunnews.com.

Koordinasi dengan pemerintah

Sementara Ketua Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) Organda DKI, Hally Hanafiah mengatakan akan melakukan kordinasi dengan pemerintah terkait kegiatan operasional angkutan khusus pelabuhan nanti. Karena, adanya Angsuspel ini menjadi bagian pemerintah dalam menyokong perekonomian.

“Angsuspel lebih mengarah membantu pemerintah dalam hal proses distribusi masuk barang pelabuhan,” tutur dia. Menurut dia, dalam waktu tiga bulan kedepan pihaknya akan konsolidasi internal? apa yang jadi permasalahan dan dirasakan anggota karena sempat vakum terhenti dua tahun, yakni mulai inventarisasi dan kordinasikan dengan pemerintah.

“Contoh kita akan kerjasama dengan dwelling time. Kami Angsuspel akan suport bagaimana angkutan kami memiliki kendaraan layak beroperasi, misal tidak mogok atau segala macam. Fokus kami dengan dweling time bisa memiliki kendaraan layak pakai sehingga peranan kami bisa mensuport dwelling time supaya bisa cepat,” ungkapnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here