Pangkas Dwelling Time, Pemerintah Bentuk Information Center di Pelabuhan

0
330

petikemas2

Jakarta – (suaracargo.com)

Kementerian Perhubungan (Kemhub) akan membuat pusat layanan informasi untuk pengurusan perizinan bongkar muat barang di pelabuhan. Pusat layanan informasi ini terdiri atas 9 institusi perizinan barang.

“Pusat layanan ini akan membantu percepatan pengurusan izin sehingga proses bongkar muat barang di pelabuhan atau dwelling time lebih singkat,” kata Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di Jakarta, Kamis (7/5).

Dalam pengurusan izin ini ada 16 institusi yang sebelumnya direncanakan akan terlibat . Namun, ternyata hanya diperlukan 9 institusi saja. Pusat layanan ini hanya bertugas memberikan informasi, bukan memproses perizinan. Maksudnya, agar pemilik barang tidak salah langkah dalam pengurusan izin yang bisa berakibat pada lama waktu pengurusan.

Selain itu, Jonan akan mengusulkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Maritim untuk memperbanyak mesin x-ray untuk guna mempercepat pemeriksaan barang-barang yang berada di jalur merah. “Selama ini yang membuat dwelling time tinggi ternyata barang-barang di jalur merah. Apabila alat pemeriksaan ditambah, seperti x-ray, maka prosesnya akan lebih cepat,” kata Jonan, seperti dilansir beritasatu.com

Jonan mengungkapkan, dwelling time di pelabuhan memang haruas ditekan hingga mencapai target 4,7 hari. Namun, barang-barang di jalur merah juga tetap harus diperiksa dengan ketat. Semua itu dilakukan agar dwelling time yang ditargetkan bisa tercapai dan pemeriksaan tidak mengendur.

Sementara itu, Otoritas Pelabuhan Tanjung Prdiok Bay M Hasani mengatakan, sebenarnya saat ini dwelling time di Tanjung Priok sudah mencapai 4-5 hari. Namun angka itu tercapai apabila hanya menghitung barang-barang di jalur hijau dan barang-barang mitra yang jumlahnya mencapai 79 %. Jika digabungkan dengan jalur kuning yang jumlahnya 15 % dan jalur merah yang jumlahnya 6 %, maka dwelling time masih 5,5 hari. “Ini pun tergantung kapan barang datang. Jika seperti pekan lalu, dimana ada libur panjang di akhir minggu, maka penumpukan barang bisa mencapai 80 %,” kata Bay.

Selain itu, yang membuat dwelling time lama adalah perbedaan antara jam kerja di dalam pelabuhan dengan di luar pelabuhan. Pelabuhan beroperasi 24 jam 7 hari per minggu. Namun, instansi-instansi di luar pelabuhan tidak bekerja 24 jam 7 hari per minggu.

Menurut Bay, sebaiknya perhitungan dwelling time antara jalur hijau dengan jalur merah dan jalur kuning dipisahkan. Hal ini untuk melihat berapa lama sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk bongkar muat barang.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here