Pelabuhan Bitung Difungsikan Sebagai Pelabuhan Impor

0
472

Manando – (suaracargo.com)

Pelabuhan Bitung telah berfungsi sebagai pelabuhan impor sejak 1 Oktober 2014. Namun, berdasarkan izin impor yang diterbitkan oleh Menteri Perdagangan, impor yang diperbolehkan hanya terbatas pada tiga jenis barang yaitu, pakaian jadi, elektronik dan makanan.

General Manager PT Pelindo IV Bitung, Kalbar Yanto, mengatakan bahwa izin impor itu melengkapi keberadaan Pelabuhan Bitung yang menjadi pelabuhan ekspor beberapa waktu yang lalu. Sebagaimana dikutip dari koran Kompas edisi Senin, 6 Oktober 2014, Kalbar mengatakan hal tersebut di Bitung pada hari Sabtu (4/10).

Ekspor dan komoditas dari pelabuhan Bitung dilakukan PT Maersk Line pada bulan April 2014 lalu. Tujuan kapal pengangkut barang yang berlayar dari Bitung tersebut adalah Pelabuhan Tanjung Pelepas di Malaysia. “Meski baru tiga jenis barang yang diizinkan impor, kami rasa cukup untuk menjadikan Bitung sebagai pelabuhan ekspor impor yang setara dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.” ujar Kabar.

Selain menuju ke Pelabuhan Tanjung Pelepas, menurut Kalbar, ada juga kapal-kapal pembawa komoditas perkebunan dan perikanan yang berangkat dari Bitung menuju ke Davao (Filipina), Guang Zhao (Tiongkok) dan Khaosiung (Taiwan).

Kalbar juga menambahkan bahwa Pelabuhan Peti Kemas Bitung dinilai terlalu sempit untuk bongkar muat barang dalam dan luar negeri. Daya tampung pelabuhan container untuk sekali tumpuk hanya 3 hektar untuk muatan 2 hektar. Untuk mengatasi keterbatasan itu, Kalbar mengatakan bahwa pihaknya telah meminta izin untuk mereklamasi kolam pelabuhan untuk dijadikan halaman untuk menampung kontainer seluas 2 hektar. Penambahan luas halaman kontainer tersebut akan menjadikan proses bongkar muat menjadi lebih leluasa.

Pelabuhan Bitung merupakan pelabuhan penting untuk Pendulum Nusantara bagian Indonesia Timur. Bitung dinilai memiliki potensi strategis sebagai pintu gerbang menuju negara-negara lain di benua Asia seperti Tiongkok, Hong Kong, Singapura dan Malaysia.

Terkait ekspor, Kepala Dinas Perdagangan Sulawesi Utara, Olvie Atteng, mengatakan bahwa Sulawesi Utara sepanjang bulan September telah mengekspor 414 ton tepung kelapa ke 12 negara. Permintaan terbanyak untuk tepung tersebut berasal dari Rusia yang mencapai 78 ton dengan devisa 177,028 dollar AS. Angka ini merupakan angka yang tertinggi bila dibandingkan dengan 11 negara tujuan ekspor lainnya seperti Jerman, Slovenia, Brasil, Inggris, Australia dan Selandia Baru.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here