Pelabuhan Cerminan Kota

0
217

Pada tanggal 1-5 Juni tahun ini diadakan Konferensi Pelabuhan – pelabuhan Dunia (World Ports Conference / WPC) ke 29, di Hamburg – Jerman. Konferensi ini mengingatkan kita akan arti pentingnya pelabuhan bagi sebuah peradaban. Pelabuhan adalah cermin dari kota, dan kota cerminan pelabuhan itu sendiri.

Pengembangan pelabuhan tidak bisa terpisah oleh tata kota. Keduanya terkait dan terintegrasi satu sama lain. Pelabuhan yang baik merupakan produk dari penataan kota yang sempurna. Begitu pun sebaliknya, pengelolaan kota yang semrawut pasti menghasilkan pelabuhan yang acak acakan.

Bagaimana dengan pelabuhan di Indonesia ?

Kita mengaca pada Pelabuhan Tanjung Priok dan Sunda Kelapa. Kedua pelabuhan sudah ada semenjak jaman Pajajaran, sekitar abad 12. Waktu itu, pelabuhan masih sangat sederhana. Hanya menjadi pelabuhan rakyat antar pulau pulau di Nusantara. Itu pun terbatas kapal rakyat.

Semenjak era kolonialisme Belanda, barulah pelabuhan ini berbenah. Belanda sudah berfikir jauh kedepan. Mereka memikirkan jalur logistik yang terintegrasi. Terbukti, dengan terkoneksinya jaringan kereta api antar kota dengan pelabuhan.

Entah mengapa, semenjak revolusi fisik yang berujung pada prokalamasi kemerdekaan RI tahun 1945, jalur distribusi logistik yang sudah tertata ini menjadi semrawut.

Jalur kereta api yang terintegrasi dari Tanjung Priok ke seluruh kota di Pulau Jawa dan sebaliknya terabaikan atau “dimatikan”. Akibatnya, truk truk besar pengangkut barang yang menggantikan.

Sebenarnya itu tidak masalah. Akan tetapi, yang terjadi saat ini adalah kesemrawutan dan kemacetan akut. Seolah terjadi pembiaran oleh pejabat berwenang. Manajemen kontrol transportasi logistik lumpuh, tidak berfungsi.

Lambang S

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY