Pelabuhan Internasional Akan Dibangun di Kalimantan Barat

0
456

Pontianak – (suaracargo.com)

Sebuah pelabuhan internasional segera dibangun di Pulau Pelapis, Kabupaten Kayong Utara. Sekretaris Pemerintah Provinsi Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie menyatakan bahwa izin pembangunan pelabuhan dari Menteri Perhubungan telah keluar.“Izinnya sudah keluar untuk pelabuhan internasional bahan bakar minyak, CPO, tambang, dan kontainer di Pulau Pelapis,” ujar Zeet seusai membuka pameran di Pontianak Convention Center, Kamis (16/10).

Zeet menjelaskan bahwa pembangunan pelabuhan itu akan dilakukan pihak swasta asal China. Namun, mereka akan tetap bekerjasama dengan investor lokal. Biaya pembangunannya mencapai Rp30 triliun. Rencananya, tahun depan dilakukan persiapan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Ditargetkan pada 2017 pelabuhan dapat dioperasionalkan. Sebelumnya, pelabuhan internasional akan dibangun di Kabupaten Mempawah. Tetapi diperkirakan rencana tersebut batal. “Lahannya (di Kabupaten Mempawah) dangkal. Kalau di Pelapis kedalamannya mencapai 16 meter. Pulau itu besarnya separuh Kota Pontianak,” ungkap mantan Kepala Badan Penanaman Modal Daerah Provinsi Kalbar ini.

Zeet juga menjelaskan bahwa keberadaan pelabuhan internasional di Pelapis sangat bermanfaat bagi Kalbar. Jika nantinya operasional, Kalbar akan mendapatkan bagi hasil pajak diatas Rp2 triliun pertahun. Pelabuhan juga bermanfaatkan untuk pendistribusian minyak di wilayah barat. “Karena berada di wilayah barat dan sekitarnya, bisa mendistribusikan minyak untuk Kalbar, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, sampai ke Riau Kepulauan,” ujar Zeet.

Selain itu, lanjut Zeet, Indonesia juga bisa mengekspor minyak langsung ke Singapura dan Malaysia. Kondisi ini pun cukup baik dan membuka peluang positif untuk berbagai sektor usaha yang ada di Kalbar. “Lima tahun ke depan produksi CPO Kalbar mencapai lima juta ton. Artinya bagi hasil pajak bisa mencapai Rp2 triliun,” kata mantan Sekda Kota Singkawang ini.

Saat ini produksi CPO Kalbar belum mencapai tiga juta ton dan pendapatan dari bagi hasil pajak Kalbar masih kurang dari Rp2 triliun. Zeet berharap, dengan adanya pelabuhan internasional, sektor perkebunan, pertambangan dan lainnya dapat memproduksi produk turunannya. “Sebab kalau hanya jual CPO, lima tahun kedepan digilas negara maju, terutama Malaysia. Karena sekarang ini Malaysia sampai ke wilayahnya yang kecil,” ungkap Zeet. Zeet menambahkan bahwa saat ini pasar dunia lebih menyenangi produk dengan nilai tambah. “Sebab kalau hanya jual barang mentah percuma,” katanya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here