Pelabuhan Reo di Manggarai Diusulkan Jadi Pelabuhan Serbaguna

0
728
Dermaga pelabuhan Marpokot di Kabupaten Nagekeo merupakan pintu masuk laut ke kawasan Kapet Mbay
Dermaga pelabuhan Marpokot di Kabupaten Nagekeo merupakan pintu masuk laut ke kawasan Kapet Mbay

Manggarai – (suaracargo.com)

Pelabuhan Reo di Kabupaten Manggarai telah diusulkan ke pemerintah pusat untuk dinaikkan statusnya menjadi pelabuhan serbaguna untuk kapal angkutan barang dan penumpang. Pengusulan itu dilatarbelakangi oleh aktivitas angkutan barang dan penumpang naik drastis sejak kapal angkutan kontainer beroperasi pada Februari 2014.

“Kami sudah usulkan pembangunan tambahan dermaga dan lapangan penumpukan kontainer. Proposalnya sudah disampaikan ke Jakarta, mudah-mudahan tahun 2015 bisa terjawab,” kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Reo, John Ola, kepada Pos Kupang, Sabtu (27/12/2014).

Pembangunan lapangan penumpukan, kata John, kini sudah dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan bongkar muat kontainer di Reo. KOndisi lapangan untuk penumpukan barang, yang kini masih berupa tanah lapagn, menimbulkan keluhan dari pihak perusahaan ekspedisi kontainer. John juga mengatakan, PT Meratus telah memulai jasa angkutan kontainer sejak 27 Februari 2014. Setiap bulan, pelabuhan itu dikunjungi tiga sampai empat kali kapal kontainer.

Manajemen PT Mentari, ekspedisi kontainer asal Surabaya, juga telah melakukan survei dan permohonan bongkar muat kontainer. Menurut John, angkutan kontainer melalui Pelabunan Reo tak hanya melayani kebutuhan masyarakat dan pengusaha di Kota Ruteng, tetapi juga di Borong, Manggarai Timur, Labuan Bajo Manggarai Barat bahkan sampai ke Bajawa, Kabupaten Ngada.

Untuk kapal angkutan penumpang, kata John, usulan untuk disinggahi kapal milik PT Pelni sudah disampaikan langsung oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya ke PT Pelni Pusat. Tanggapan manajemen PT Pelni, jumlah kapal Pelni terbatas untuk memenuhi permintaan pemerintahan di daerah.
“Di forum rapat koordinasi perhubungan, saya usulkan Reo menjadi pangkalan kapal perintis. Penumpang naik dan turun melalui Reo cukup banyak setiap dua minggu sekali,” kata John.

Menurut John, kapasitas angkutan kapal perintis sangat terbatas. Kapal yang hanya mampu mengangkut sekitar 200-an orang itu tak sebanding dengan permintaan jasa angkutan penumpang.”Musim liburan, penumpang naik dan turun sekitar 500 orang. Kadangkala kami kewalahan melarang penumpang yang paksa diri naik ke kapal. Alasan keselamatan dan kenyamanan tidak dihiraukan lagi. Ketika petugas melarang, mereka justru minta siapkan kapal yang lain. Kadangkala kami tidak bisa tidur, sebelum kapal sampai di pelabuhan tujuan,” kata John.

Wakil Bupati Manggarai, Dr.Deno Kamelus, S.H, M.H, meminta perhatian pemerintah pusat untuk membenahi Pelabuhan Reo dan lapangan penumpukan. Ekspedisi angkutan kapal kontainer Surabaya-Reo memberi dampak terhadap ketersediaan barang kebutuhan masyakarat dan harga yang lebih terjangkau.

Angkutan kontainer melalui Pelabuhan Reo bukan hanya untuk menyangga permintaan masyarakat di Kota Ruteng. Angkutan kontainer yang melalui pelabuhan itu juga sampai ke Borong, Labuan Bajo dan Bajawa. Masyarakat yang memasarkan komoditas pertanian dan perkebunan dimudahkan oleh penggunaan kontainer di sana. “Dampak sosial dan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatkan sarana dan prasana perhubungan,” kata Kamelus, mengunjungi Pelabuhan Reo, pekan yang lalu.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here