Pelabuhan Sebagai Titik Sentral Pembangunan Tol Laut Indonesia

0
361

2015-04-01_--00-9911_1_maritim (1)

Dalam skema besar proyek tol laut di Indonesia, pelabuhan merupakan titik sentral. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan 24 pelabuhan di seluruh Indonesia untuk mendukung program tersebut. Diantara 24 pelabuhan itu, ada empat pelabuhan, yaitu Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Makassar, yang menjadi pelabuhan utama.

Untuk mencapai keandalan, frekuensi, dan efisiensi sebagai prasyarat untuk menurunkan biaya logistik, menurut Dirut PT Pelindo II Richard Joost Lino, ke-24 pelabuhan itu akan diubah fungsinya. Ada yang dirancang sebagai titik pengumpul (hub). Tidak sedikit pula yang kelak menjadi penghubung (spoke) saja.

“Sorong itu pelabuhan pengumpul. Lalu pelabuhan penghubung tersebar di Papua, Papua Barat, Maluku, NTB, dan Sulawesi. Selama ini pengiriman barang antarpelabuhan rumit dan menelan biaya tinggi, Rp4,78 juta (US$366) per twenty foot equivalent unit (teu),” kata Lino kepada Media Indonesia, Selasa kemarin (31/03/2015).

Dirut PT Pelindo IV Mulyono menambahkan, sekitar 90% arus barang di wilayahnya memanfaatkan moda laut. Sebagai tahap awal proyek tol laut, Pelindo IV mulai menggarap proyek Makassar New Port (MNP). “Nanti kami memiliki 320 meter dermaga baru dan 16 hektare kawasan peti kemas untuk menampung 600 ribu kontainer per tahun. MNP beroperasi 2018,” ujar Mulyono.

Hal serupa juga digagas PT Pelindo III dengan membangun Terminal Teluk Lamong di Tanjung Perak dan membangun kawasan industri dengan pelabuhan di Manyar, Gresik. “Di Pelabuhan Banjarmasin kami memperpanjang dermaga, memperluas lahan peti kemas, dan mengganti empat container crane. Pelabuhan Sampit disiapkan untuk peti kemas. Pelabuhan Tenau Kupang juga untuk peti kemas serta offshore,” ungkap Manajer Humas PT Pelindo III Edi Priyano.

PT Pelindo I bahkan menggandeng manajemen Port of Rotterdam untuk mengembangkan kapasitas Pelabuhan Kuala Tanjung. Menurut Manajer Humas Pelindo I Erryansyah, pihaknya memprediksikan Kuala Tanjung akan menjadi pelabuhan yang banyak disinggahi kapal di Selat Malaka. “Kami juga mengembangkan Pelabuhan Malahayati di Banda Aceh, Belawan, Dumai, dan Batam. April 2015 ini kami mulai,” jelas Erryansyah.

Butuh Rp699 triliun

Deputi Sarana dan Prasarana Bappenas Deddy Priatna mengakui pemerintah telah menggelontorkan dana Rp7,9 triliun dalam APBNP 2015 untuk memulai proyek tol laut. “Ada juga dana penyertaan modal kepada PT Pelindo IV sebesar Rp2 triliun.”

Dalam kajian Bappenas, lanjut Deddy, selama lima tahun ke depan, proyek tol laut membutuhkan anggaran Rp 699,9 triliun. Dana jumbo sebesar itu akan diserap untuk mengembangkan 24 pelabuhan senilai Rp243,6 triliun, pelayaran jarak pendek Rp7,5 triliun, fasilitas kargo umum dan bulk Rp40,6 triliun, pengembangan pelabuhan nonkomersial Rp198,1 triliun, pengembangan pelabuhan komersial Rp41 triliun, transportasi multimoda Rp50 triliun, revitalisasi galangan kapal Rp10,8 triliun, pengadaan kapal Rp101 triliun, dan kapal patroli Rp6,04 triliun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here