Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Jadi Pelabuhan Pertama Yang Terapkan Aplikasi Pemeriksaan Petikemas Online

0
105

Semarang – (suaracargo.com)

Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang menerapkan aplikasi pemeriksaan petikemas impor berbasis informasi teknologi (IT). Menyusul diluncurkannya Go Live oleh Surveyor Independen yang ditunjuk Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI).

Peluncuran Go Live ditandai dengan pemencetan tombol yang dilakukan Sekjen BPP GINSI, Taufan Erwin Taufan bersama Kepala BPD GINSI Jateng Budiyatmoko, Kepala KSOP Kelas I Tanjung Emas Ahmad Wahid beserta perwakilan pelaku importir di Jateng di Aston Hotel Semarang, Jawa Tengah, Selasa (27/2/2018). Penerapan Go Live sendiri akan berlaku mulai tanggal 1 Maret mendatang.

Aplikasi Go Live ini dimaksudkan untuk membangun sistem berbasis teknologi informasi sebagai pendukung surveyor yang melalukan survey kondisi setiap petikemas yang masuk ke pelabuhan Tanjung Emas.

Erwin Taufan mengatakan, penerapan Go Live di pelabuhan Tanjung Emas Semarang menjadi barometer dan tolak ukur bagi daerah lain. Maka itu, pihaknya berharap agar dengan diberlakukannya Go Live tersebut bisa mengedukasi pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia.

“Aplikasi Go Live ini merupakan bentuk kerjasama dan kepedulian sesama stakeholder. Kami berharap apa yang dilakukan bisa menjadi pengembangan yang lebih baik dan benar,” kata Erwin, Selasa (27/2).

Dia menjelaskan, pelaksanaan aplikasi pemeriksaan petikemas impor berbasis IT ini merupakan inisiatif GINSI untuk mencari solusi yang tepat terkait klaim kerusakan kontainer yang selama ini sangat merugikan importir. Menurutnya, deliverable dari sistem berbasis IT ini adalah kecepatan dan ketepatan informasi tentang kondisi kontainer yang tertuang dalam Equipment Interchange Receipt (EIR).

Taufan membeberkan, kecepatan sharing informasi EIR ini ke semua pelaku usaha terkait seperti Pelayaran, Depo Empty, Importir dan EMKL hingga ke kantor KSOP akan membangun fairness dan transparansi dari kondisi fisik kontainer dan mekanisme klaim atas kerusakan yang mungkin terjadi.

“Intinya GINSI atau importir akan membayar (melalui keterlibatan asuransi) setiap kerusakan yang memang menjadi tanggung jawab importir sebagai pengguna kontainer. Namun, kami tidak akan membayar satu persen pun jika kerusakan itu bukan tanggung-jawab kami. Pada akhirnya EIR yang diissued oleh surveyor independen (KSO SCI-SI) akan menjadi referensi utama kami untuk menerima setiap klaim kerusakan kontainer yang muncul,” terangnya.

Budiyatmoko mengungkapkan, pemeriksaan fisik petikemas impor berbasis teknologi informasi sangat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi importir sebagai pengguna jasa maupun KSOP selaku regulator yang membawahi wilayah pelabuhan Tanjung Emas.

“Dengan penerapan Go Live ini, kami mendapatkan keterbukaan atas kondisi petikemas sehingga keluhan dari importir mengenai kondisi petikemas bisa terjawab dengan adanya pemeriksaan tersebut,” ungkap Budiyatmoko.

Dia menyatakan bahwa program Go Live tersebut sudah menjadi kesepakatan antara pihak TPKS, GINSI, PT Sucofindo, PT Surveyor Indonesia, INSA, ALFI, Asdeki, dan Asuransi Jasa Raharja. Pihaknya yakin jika solusi Survey Kondisi Kontainer Independen yang sudah dibangun dan sudah diresmikan di Semarang ini akan mampu menjadi solusi tepat untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait penghapusan jaminan kontainer.

“Kami yakin jika dimplementasikan secara nasional sistem ini akan mendukung transparansi salah satu komponen biaya logistik dalam hal ini biaya jaminan kontainer,” ujar Budiyatmoko. Meski kebijakan tersebut sudah dikeluarkan, namun dalam prakteknya jaminan kontainer masih berjalan.

Kepala KSOP Kelas I Tanjung Emas, Ahmad Wahid, menilai pemberlakukan Go Live yang merupakan sistem digitalisasi pemeriksaan kontainer ini menjadi tonggak kemajuan cara berpikir gabungan importir nasional nasional seluruh Indonesia. “Setidaknya Go Live ini bisa mengayomi anggota GINSI sendiri dan semua stakeholder dalam aktivitas ekportir,” ujarnya.

Pihaknya berharap, pelaksanaan aplikasi pemeriksaan petikemas berbasis IT ini yang transparan dan independen ini juga di share ke KSOP. “Karena pada prinsipnya kami selaku KSOP sifatnya hanya mendorong efektifitas layanan di pelabuhan Tanjung Emas agar kepentingan semua stakeholder bisa tercapai,” ujarnya.

Penulis: Ahmad Antoni
Editor: M. Nahar

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here