Pelaku Usaha Logistik Lebih Suka Angkasa Pura I dan II Kembangkan Infrastruktur Bandara

0
208
ilustrasi barang (shutterstock.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pelaku usaha jasa logistik lebih mendukung badan usaha milik negara, yakni Angkasa Pura I dan II, untuk melakukan pengembangan infrastruktur bandara dalam menjalankan Asean Open Sky daripada ikut masuk ke bisnis jasa logistik.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Logistik dan Rantai Pasokan Rico Rustombi menyatakan, Indonesia yang kini sudah memasuki Asean Transport Action Plan lebih perlu melakukan integrasi di bidang transportasi udara baik dari tingkat regional hingga internasional ketimbang membuka bisnis cargo village.

“Perlu ada peningkatan layanan kargo di bandara agar bandara di Indonesia dapat menjadi pilihan hub untuk kargo udara seperti contohnya dengan cargo village dan aerotropolis. AP I dan AP II diharapkan bisa menjadi penyedia infrastruktur yang handal di Asean,” ungkap Rico kepada Bisnis, Selasa (3/5/2016).

Pasalnya, Kuala Lumpur Transport Single Strategic Plan 2016-2025 tujuan di bidang transportasi adalah penguatan Asean Single Aviation Market. Peluang ini menuntut maskapai penerbangan di Indonesia lebih mengembangkan infrastruktur pelayanan bagi penumpang, salah satunya adalah layanan kargo.

“Operator penerbangan di Indonesia dapat mengambil peran di regional Asean dan bersaing dengan operator negara lain,” terangnya, seperti dilansir bisnis.com.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forcwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan hal yang senada. Menurutnya, sebagai tindak lanjut Asean Open Sky, penerbangan di Indonesia diharapkan memiliki armada freight yang kuat guna mendorong pergerakkan kargo udara domestik dan regional.

“Baiknya AP I dan AP II fokus kepada infrastruktur logistik bukan masuk kepada logsitik service-nya. Karena operator airport di Asean lainnya mereka fokus pada port of operator,” tutur Yukki kepada Bisnis.

Yukki mengatakan ada beberapa bandara di Indonesia yang dapat dijadikan hub untuk kargo. Penyedia jasa logistik di Indonesia dan Asean dapat melakukan integrasi menggunakan layanan kargo udara yang dapat diandalkan dengan kolaborasi bersama operator penerbangan dan bandara.

“Sudah saatnya pelaku logistik Indonesia berjalan bersama sesuai keahliannya masing-masing dan bersama-sama mengambil porsi layanan logistik di Asean. Kadin dan ALFI akan berkoordinasi dan menolong pihak terkait untuk menghindari persaingan sesame pelaku nasional disaat kita menghadapi persaingan bisnis internasional,” tegasnya.

Sebelumnya dua BUMN, PT Angkasa Pura II dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mulai memacu pendapatan non-inti dari bisnis kargo berkat kebijakan Asean Open Sky.

Menurut Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis AP II, Faik Fahmi, kontribusi pendapatan dari bisnis kargo hanya 3% dari total pendapatan AP II.

Oleh sebab itu AP II berencana ikut bermain sebagai pelaku kargo atau service provider dengan cara menciptakan anak usaha baru khusus menangani bisnis kargo.

Untuk tahap awal, AP II akan menyuntikkan dana Rp200 miliar untuk mengelola fasilitas cargo village. Tak hanya cargo village, AP II juga mulai menyatakan niatnya mengincar usaha agen inspeksi atau regulated agent (RA).

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY