Pelarangan Operasi Truk Barang Gagalkan Pencapaian Target Pendapat Pelaku Usaha Logistik

0
360

Jakarta – (suaracargo.com)

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) memperkirakan target pendapatan yang dibidik oleh para pengusaha logistik pada tahun ini tidak akan tercapai. Gagalnya pencapaian target itu disebabkan pemberlakuan larangan pengoperasian truk barang selama lima hari, yakni 30 Desember 2015-3 Januari 2016 oleh pemerintah, yang berpotensi menimbulkan kerugian sebesar Rp 25-30 miliar per harinya bagi pengusaha logistik.

Ketua Umum ALFI Yukki Nugrahawan mengungkapkan, banyak pelaku usaha, termasuk yang berkecimpung di bidang penyedia jasa logistik yang mengejar target pendapatan pada akhir 2015 ini. Mereka mengejar target di akhir tahun karena selama periode 11 bulan sebelumnya, kegiatan logistik dan transportasi mengalami penurunan kuantitas dibandingkan tahun lalu akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak signifikan.

“Menurut pendapat saya, hal ini (pelarangan operasi truk barang) sangat mengagetkan dan terkesan mendadak karena (itu) dampaknya akan ke mana-mana,” kata Yukki kepada Investor Daily, Minggu (27/12) dan dilansir beritasatu.com.

Yukki menyatakan, sebenarnya pihaknya belum menghitung secara komprehensif terkait nilai kerugian yang ditimbulkan akibat kebijakan pemerintah ini. Namun, secara praktis, nilai kerugian pelaku logistik itu tidak akan kurang dari Rp 25 miliar per hari. Hal tersebut disebabkan oleh keluhan yang diajukan oleh para pemilik barang.

“Pelaku logistik akan mendapatkan komplain dari pemilik barang karena semua sudah punya perencanaan pengiriman barang termasuk yang ekspor karena kaitannya dengan komitmen waktu pengiriman dan angkutan laut dan udara dari rangkaian kegiatan logistik,” jelas dia.

Yukki berpendapat, seharusnya pemerintah terlebih dahulu melakukan sosialisasi para pelaku industri minimal satu atau dua bulan sebelum kebijakan itu aktif diimplementasikan. Apalagi, bila kebijakan itu terkait erat dengan industri dan bisnis. Dengan demikian, pengusaha bisa menjalankan sejumlah penyesuaian terkait diterapkannya keputusan pemerintah itu. “Kami tentunya tidak berharap kejadian secara mendadak ini tidak terulang kembali. Kami yakin semua ini bisa diprediksi dan direncanakan dengan baik,” papar dia.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum ALI Zaldy Mashita juga menilai larangan operasi angkutan barang yang terkesan mendadak ini dapat berdampak pada kelangkaan barang-barang konsumsi tertentu di kota-kota besar. “Kerugiannya sangat besar bagi logistik dan industri karena kebutuhan masyarakat tidak dapat disalurkan menyusul adanya pelarangan yang mendadak ini. Kemungkinan besar ada kelangkaan stok untuk beberapa barang konsumsi di kota-kota besar karena tidak ada supply dari pabrik-pabrik yang letaknya di luar kota,” ujar Zaldy.

Namun demikian, Zaldy mengatakan, para pemilik barang sebenarnya tidak bisa menuntut kerugian kepada pelaku angkutan terkait barang yang tidak bisa didistribusikan, lantaran hal tersebut disebabkan adanya pelarangan dari pemerintah. “Namun demikian, untuk mengurangi kerugiannya dan menjaga kelangsungan stok barang, pengusaha logistik mencoba mengalihkan dari angkutan truk ke angkutan kereta barang untuk sementara waktu,” ujar dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Distribusi dan Logistik Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmaja Lookman juga menyayangkan kebijakan pemerintah yang terkesan mendadak ini. Akan tetapi, dia mengungkapkan, saat ini para penyedia jasa angkutan truk barang sedang berupaya untuk mengirimkan barang sesuai dengan waktu yang disepakati dengan pemilik barang. “Yang tanggal merah itu kan tanggal 1 Januari. Jadi tanggal 31 Desember masih tetap ada pengiriman, tapi karena tidak boleh operasi selama dua hari (30-31 Desember), maka kami akan melakukan optimalisasi pada 28-29 Desember,” ujar dia.

Namun demikian, kata Lookman, untuk melakukan pengiriman itu, ada sejumlah kendala yang harus diatasi. Kendala yang dimaksud misalnya kebutuhan unit armada yang lebih banyak. “Tetapi, setelah sampai di lokasi tujuan pun belum tentu bisa dibongkar barangnya sehingga nanti juga akan menimbulkan biaya inap karena untuk sementara sopir tidak bisa kembali ke pusat lantaran ada pelarangan operasi truk,” ujar dia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here