Pelindo Dumai Diminta Maksimalkan Fasilitas Pelabuhan

0
601
Pengembangan pelabuhan kontainer di Dumai mendapat dukungan semua pihak. APBMI meminta Pelindo meningkatkan pelayanan dan memaksimalkan fasilitas pelabuhan. (ilustrasi pelabuhan / riauheadlines.com)
Pengembangan pelabuhan kontainer di Dumai mendapat dukungan semua pihak. APBMI meminta Pelindo meningkatkan pelayanan dan memaksimalkan fasilitas pelabuhan. (ilustrasi pelabuhan / riauheadlines.com)

Dumai – (suaracargo.com)

Perkembangan pabrik pengolah minyak kelapa sawit di kota Dumai membawa dampak positif bagi masyarakat Dumai. Selain dapat menampung tenaga kerja, keberadaan pabrik itu juga memajukan industri kepelabuhan.

Kendati demikian, kemajuan industri kepelabuhan itu sendiri juga harus didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Untuk itu, selaku Badan Operasional Pelabuhan (BOP), sudah selayaknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pelabuhan Cabang I (Pelindo I) Dumai menyiapkan semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

Contoh dari sarana dan prasarana itu antara lain, pembangunan depo (gudang) kontainer dan perpanjangan dermaga untuk pelabuhan peti kemas. Semua itu benar-benar dibutuhkan untuk menunjang keluar masuknya kapal yang beraktivitas di Pelabuhan Dumai.

Oleh sebab itu, hampir semua unsur mendukung pengembangan pelabuhan kontainer, termasuk perusahaan dan pemerintah daerah. Pelindo Dumai pun didesak untuk menyiapkan pelayanan yang standar agar tidak merugikan pihak lainnya.

Wakil Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) sekaligus Direktur PT. Trans Homal Sejahtera Dumai, Idham Khalid mengatakan, pertumbuhan kedatangan kapal tidak seimbang dengan pelayanan pihak Pelindo saat ini. Hingga saat ini pelayanan dermaga sangat terbatas dibandingkan kapal yang masuk setiap hari, baik kapal luar negri maupun dalam negeri.

“Apalagi kini sedang dilirik oleh Telaga Mas (Telmas), kapal kontainer. Tentunya, Pelindo harus menyiapkan sarana dan prasarana untuk pelabuhan peti kemas ini. Sehingga aktivitas bongkar muat kontainer tidak mengganggu kapal-kapal lainnya,” katanya, Kamis (11/12/14), sebagaimana dilansir riauterkini.com.

Dijelaskan pula oleh Idham, saat ini ada dua dermaga untuk kegiatan aktivitas pelayanan lokal dan luar negeri. Yaitu, dermaga A dengan panjang 346 meter dan dermaga C sepanjang 500 meter. Sementara, ada 100 meter pada dermaga C yang diperuntukkan untuk terminal peti kemas.

Kendati demikian, 100 meter dermaga yang disiapkan untuk kapal kontainer dinilai tidak cukup. Sehingga, saat kapal kontainer masuk, kapal lainnya harus dialihkan atau ditahan sampai aktivitas bongkar kapal peti kemas selesai.

“Kapal kontainer tidak bisa menunggu, karena paling lambat setiap 1 kali 24 jam sudah harus bongkar dan pergi. Sedangkan waiting time kapal-kapal lainnya paling lama 3 kali 24 jam,” katanya menambahkan.

“Akibat kapal kontainer masuk kapal-kapal domestik lainnya terpaksa menunggu hingga 8 hari. Karena antri dan dermaga sangat sibuk, dan peruntukan dermaga C diubah secara sepihak oleh Pelindo,” katanya.

Selain itu, yang juga menjadi persoalan adalah yang terkait peruntukan dermaga. Biasanya, pelabuhan yang melayani bongkar muat adalah dermaga C. Tetapi, Pelindo mengondisikan dermaga itu untuk melayani kapal curah kering. Sehingga berdampak pada kapal domestik lainnya, yang tidak lagi dibenarkan bersandar di Dermaga itu.

“Namun, kami sebagai penerima jasa tidak menerima surat pengalihan peruntukan sandar. Sedang ini sudah berjalan selama 4 bulan. Tentu merugikan pelabuhan domestik lainnya, sehingga terpaksa menunggu sampai ambang waktu yang lama,” katanya.

?Dijelaskan Idham, biaya rata-rata kapal domestik Rp. 25 juta per hari. Jika waiting time kapal-kapal tersebut mencapai 8 hari, kerugian yang dialami pihak kapal Rp. 400 juta. Belum lagi kapal-kapal internasional yang juga bisa mengalami kerugian hingga Rp. 500 juta.

Sementara kapal-kapal itu dialihkan ke dermaga A, yang hanya mempunyai panjang 346 meter. Sedangkan di dermaga A sudah diperuntukkan untuk kapal-kapal Multi Purpose.

“Dermaga A ini pendek sekali, sementara yang menantinya mencapai puluhan kapal per hari. Kapan mereka akan sandar untuk bongkar muat bila antriannya saja udah panjang, dan berapa pula mereka harus menghabiskan anggaran,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, agar dapat lebih menunjang pelabuhan kontainer yang sedang dikembangkan, Pelindo sebagi penyedia pelayanan pelabuhan harus melakukan penyediaan fasilitas pelabuhan.

“Jangan hanya pikirkan keuntungan sendiri. Jika terus dipaksakan dengan tumpang t?indih seperti ini, kapal-kapal lain tentu tidak akan sanggup ke Dumai lagi. Sedangkan di Perawang, mereka tengah mengembangkan pelabuhan,” katanya.

Keluh-kesah perusahaan lokal tersebut sudah beberapa kali disampaikan ke PT.Pelindo I Cabang Dumai. Bahkan, dihadiri oleh manajemen dengan perusahaan lokal serta Insa Cabang Dumai. Namun, keputusan rapat agar Pelindo menambah kawasan atau memperpanjang dermaga tidak kunjung terlaksana.

Secara terpisah, Kepala Bagian Humas PT. Pelindo I (Persero) ?Cabang Dumai Hendri mengatakan, pengembangan pelabuhan kontainer memang butuh pengembangan sarana dan prasarana. Hal tersebut akan dilakukan pihaknya. Namun, untuk membicarakan hal tersebut butuh persetujuan direksi.

“Sudah tentu akan ada pengembangan sara dan prasarana. Kalau tidak, kita pasti juga bakal ketinggalan. Termasuk depo kontainer, juga harus dibuka,” katanya. Namun, ia tidak menjelaskan rencana kongkret pembangunan pelabuhan kontainer yang dimaksud.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here