Pelindo II Diusulkan Jadi Otoritas Pelabuhan

0
324
ilustrasi pelabuhan (Liputan6.com/Antara)
ilustrasi pelabuhan (Liputan6.com/Antara)

Jakarta – (suaracargo.com)

Ketua National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menuturkan, Otoritas Pelabuhan masih cenderung berperan bersifat administratif dan kurang inisiatif.

Menurutnya, operator pelabuhan, dalam hal ini PT Pelabuhan Indonesia II, memiliki sumber daya yang cukup baik dari sisi personel dan dana untuk mengatasi dwelling time.

“Supaya cepat bergerak diserahkan saja ke instansi atau lembaga, yang paling siap pelabuhan. Kalau bea cukai jadi Otoritas Pelabuhan, orangnya enggak cukup, proses rekrutnya juga panjang,” ucapnya, Rabu (5/8/2015).

Menurutnya, dwelling time di pelabuhan tergantung daripada siklus perdagangan. Ketika impor sedang tinggi, misalnya pada saat hari raya keagamaan dan akhir tahun, banyak kontainer yang tertumpuk di pelabuhan. Selain itu, aksi importir spekulan yang memanfaatkan situasi juga berpengaruh.

Dia menjelaskan dari 60.000-70.000 kontainer per bulan yang beredar di Tanjung Priok, belum ada persentase pasti yang masuk ke jalur merah, hijau, dan kuning.

“Permasalahan dwelling time sudah agak melebar, saat ini impor lagi turun. Impor sedang melemah di Tanjung Priok dan pelabuhan lain. Bahkan dwelling time turun saat ini, perkiraan bisa tiga harian,” ujarnya, seperti dilansir bisnis.com.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here