Pelindo II Optimalisasi Penggunaan Informasi dan Infrastruktur Untuk Tekan Biaya Logistik

0
159
Pelindo II. ANT/Iggoy el Fitra.

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau Indonesia Port Corporation (IPC) tengah melakukan optimalisasi penggunaan teknologi informasi dan modernisasi infrastuktur pelabuhan guna menekan biaya logistik. Hal ini sejalan dengan dukungan perseroan untuk pengembangan ekspor nasional.

Direktur Komersial & Pengembangan Usaha IPC, Saptono R. Irianto mengatakan perseroan telah menerapkan beragam sistem, mulai dari layanan kapal hingga penanganan petikemas. Dia menyebut, IPC telah menerapkan alikasi vessel traffic system (VTS), marine operating system (MOS), dan terminal operating system untuk peti kemas dan nonpeti kemas.

“Seluruh pelabuhan yang dikelola IPC juga menerapkan aplikasi auto tally, auto gate, serta e-service,” ujarnya, seperti dilansir katadata.co.id. Saptono mengatakan hal tersebut dalam Forum Ekspor 500 di Jakarta, Selasa (8/5/2018).

Dia menambahkan, kapasitas terminal peti kemas perseroan juga sedang dikembangkan karena perseroan tengah menggarap proyek New Priok Container Terminal atau NPCT 2 dan NPCT 3 sebagai lanjutan dari NPCT 1 yang sudah beroperasi sejak 2016 lalu.

Pengembangan kapasitas terminal, menurut Saptono, cukup untuk memenuhi target pengusaha nasional yang mencanangkan peningkatan ekspor hingga 500% pada 2030 mendatang.

Saat ini, kargo ekspor yang dilayani IPC mencapai 2 juta TEUs. Saptono menyebut, dengan rencana pengembangan hingga 10,5 juta TEUs, kapasitas itu cukup untuk menampung kargo ekspor nasional. Selain membangun infrastruktur fisik, IPC juga menerapkan layanan tunggal secara elektronik berbasis internet dan pelayanan elektronik lainnya seperti e-registration, e-booking, e-tracking, e-payment, e-billing, dan e-care.

Digitalisasi pelabuhan menurut Saptono turut membantu peningkatan kinerja operasional perseroan. Tahun lalu, IPC mencatat arus barang 57 juta ton atau melampaui target 5,56%. Arus peti kemas tercatat 5,14 juta boks atau 1% di atas target yang ditetapkan IPC. Dari sisi waktu tunggu kapal di pelabuhan atau dwelling time, IPC, mencatat waktu kurang dari tiga hari.

Sejak April 2017, Pelabuhan Tanjung Priok juga masuk dalam jaringan pelayaran langsung yang dilayani perusahaan pelayaran CMA CGM. Perusahaan pelayaran asal Perancis itu membuka rute langsung ke Amerika Serikat dan Eropa dengan memboyong kapal berukuran di atas 8.000 TEUs. Pekan lalu, CMA CGM bahkan memboyong APL Salalah, kapal berukuran 10.642 TEUs.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here