Pelindo III: Daya Tarik Maritim di Indonesia

0
210
Acara Economic Challenges di Metro TV (martimedia.com)
Acara Economic Challenges di Metro TV (martimedia.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III menjadi daya tarik tersendiri bagi kemaritiman di Indonesia karena inovasi yang dihadirkan dinilai mampu untuk memberikan manfaat besar pada masyarakat pengguna jasa kepelabuhanan. Sebagaimana ditayangkan secara langsung oleh Metro TV pada acara Economic Challenge (3/6) yang bertemakan “Mengawali Kedaulatan Maritim”, Pelindo III dan anak usahanya, yaitu Terminal Teluk Lamong, menjadi pembahasan menarik .

Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, yang hadir sebagai salah satu narasumber, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang berkonsentrasi dalam mengembangkan transportasi laut sebagai transportasi utama mengingat Indonesia adalah negara kepulauan yang besar. “Terdapat 1.241 pelabuhan di Indonesia dengan 24 pelabuhan utama yang dikembangkan oleh Pelindo I–IV dan ini yang kita lakukan untuk meningkatan transportasi laut di Indonesia,” ungkap Jonan, sebagaimana dilansir maritimedia.com.

Sebagai perusahaan dengan inovasi tinggi dan selalu menjadi yang terdepan, Pelindo III melakukan banyak terobosan untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengurangi biaya logistik. Salah satu upaya tersebut adalah dengan membangun terminal dengan infrastruktur yang baik. “Untuk meningkatkan produktivitas, Pelindo III melakukan berbagai cara salah satunya dengan menambah peralatan untuk mengurangi kepadatan dan Teluk Lamong dibuat sebagai terminal yang efisien dengan produktivitas tinggi serta berpatisipasi dalam mengurangi emisi gas karbon sehingga peralatan yang ada di Teluk Lamong benar–benar ramah lingkungan,” ungkap Dirut Pelindo III, Djarwo Surjanto.

Kepadatan arus transportasi barang di laut menjadi beban tersendiri, terutama bagi pelaku bisnis kepelabuhanan termasuk INSA (Indonesia National Shipowners Association). Diwakili oleh Stenven Lasawengen selaku ketua INSA Surabaya, INSA menjelaskan bahwa lebih dari 35 kapal yang menunggu tambatan setiap hari di Pelabuhan Tanjung Perak. Terminal Teluk Lamong diyakini mampu menjawab masalah tersebut. “Teluk Lamong merupakan impian pengguna jasa sejak 10-20 tahun lalu,” ujar Stenven.

Alasan bahwa Indonesia merupakan negara maritim dan terletak sangat strategis di tengah lalu lintas perdagangan dunia menjadikan transportasi laut menjadi sangat penting. Namun, sejauh ini, proses pengiriman barang tidak merata. Kurangnya pemerataan itu menyebabkan terjadinya perbedaan harga yang sangat jauh antara Jawa dan bagian Indonesia lainnya.

Hal inilah yang berusaha dipecahkan oleh pemerintah melalui angkutan pelabuhan. Ketua Wantimpres Sri Adiningsih, yang ikut hadir dalam acara Economic Challenges tersebut, mengungkapkan bahwa Teluk Lamong merupakan breakthrough yang luar biasa karena memiliki pelayanan yang cepat dan peralatan serba otomatis sehingga dapat menjadi percontohan di pelabuhan lainnya demi mewujudkan penyatuan harga barang.

Dalam talkshow yang dipandu oleh Suryopratomo tersebut, diulas pula bahwa Indonesia tidak hanya harus mengembangkan pelabuhan yang ada, namun juga memperkuat integrasi pelabuhan itu sendiri dengan transportasi darat sehingga kekuatan perekonomian dapat direalisasikan.

“Pelindo III tidak dengan mudah melakukan pembangunan Teluk Lamong sehingga memerlukan dukungan aspek yang lain salah satunya dengan subsidi BBM untuk transportasi laut karena hal tersebut juga sangat berpengaruh pada logistic cost serta mempercepat pembangunan intermoda yang sedang dikerjakan Kementerian Perhubungan,” ujar Nursyirwan Soejono, tambah Anggota Komisi V DPR RI. Pelindo III telah memberikan contoh dengan membuat pelabuhan yang berintegrasi dengan jalur darat lainnya seperti pengiriman barang dengan kereta api, rencana pembuatan fly over, dan rancangan Automatic Container Transporter (ACT) di Teluk Lamong.

Pujian untuk Pelindo III mengenai intermoda terlontar dari Ignasius Jonan, “Tanjung Perak dan Teluk Lamong menurut saya intermodality-nya yang paling bagus, karena ada truk, ada kereta api”. Jonan juga mengungkapkan pula bahwa meski semua pilihan intermoda telaj dipersiapkan, namun pemakaiannya tergantung dari pelaku bisnis dan pengguna jasa. Menhub berharap agar pembangunan yang baik tidak hanya dilakukan di pelabuhan besar saja namun di seluruh Indonesia untuk meratakan perekonomian Indonesia.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY