Pelindo III Tambah Delapan Crane di Tiga Pelabuhan

0
342
ilustrasi pelabuhan peti kemas (Reuters/okezone.com)
ilustrasi pelabuhan peti kemas (Reuters/okezone.com)

Surabaya – (suaracargo.com)

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III (Persero) telah mendatangkan delapan unit alat bongkar muat jenis fixed crane dengan total investasi Rp 105 miliar sejak awal Februari 2015. Rencananya, empat dari delapan unit peralatan berat tersebut akan diletakkan di Pelabuhan Gresik.

Edi Priyanto, Humas Pelindo III mengatakan, saat ini Pelindo III sedang melakukan pemasangan dan pengujian sebelum alat itu bisa dioperasikan. Rencananya, delapan crane ini akan ditempatkan di tiga lokasi pelabuhan. “Seluruh alat itu dialokasikan di tiga lokasi pelabuhan di lingkungan kerja kami. Empat unit di Pelabuhan Gresik, dua di Pelabuhan Batulicin, dua di Pelabuhan Lembar,” katanya seperti dilansir suarasurabaya.net., Minggu (22/2/2015).

Fixed crane ini memiliki banyak fungsi, seperti membongkar muat peti kemas, membongkar muat kayu log, dan membongkar muat curah kering. “Apalagi sudah ada alat pelengkap berupa spreader 20 feet dan 40 feet, grab untuk kayu log, grab untuk curah kering, serta pengadaan boom park,” ujarnya. Tujuan pengadaan alat bongkar muat jenis fixed crane ini adalah untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas bongkar muat pada tiga pelabuhan di atas. Peningkatan kinerja itu sendiri dirasa perlu karena arus barang di ketiga pelabuhan itu menunjukan peningkatan signifikan.

Di Pelabuhan Gresik misalnya, alat bongkar muat berfungsi untuk mengatasi peningkatan arus barang masuk. Pelindo III mencatat, peningkatan arus barang di Pelabuhan Gresik pada tahun 2013 sebanyak 4.447.068 ton. Jumlah ini terus meningkat hingga angka 6.557.151 ton di tahun 2014. Selain arus barang, lonjakan di sana juga terjadi pada kegiatan bongkar muat curah kering. Pada 2013 tercatat bongkar muat curah kering di pelabuhan itu sebanyak 80.430 ton. Sedangkan pada tahun 2014, jumlah itu meningkat menjadi 97.490. “Penyediaan alat ini merupakan upaya korporasi untuk meningkatkan kinerja bongkar muat pada pelabuhan yang menjadi limpahan dari Pelabuhan Tanjung Perak,” katanya.

Peningkatan bongkar muat di Pelabuhan Gresik itu, kata Edi, juga meliputi kegiatan bongkar muat CPO, batu kapur, batu bara, curah cair dan barang proyek. Sementara, kegiatan bongkar muat jenis kayu log pada tahun 2013 hanya tercatat 157.962 ton, sedangkan pada tahun 2014 menjadi 339.303 ton.

Sementara itu, di Pelabuhan Batulicin dan Pelabuhan Lembar, tujuan penambahan alat berat itu tidak berbeda. Alat berat tersebut juga akan digunakan meningkatkan kinerja bongkar muat di sana. Sebagaimana pelabuhan Gresik, kedua pelabuhan tersebut juga mengalami penambahan arus petikemas cukup signifikan.

Realisasi arus peti kemas di Pelabuhan Lembar misalnya. Pada tahun 2012 tercatat sebanyak 15.188 TEUs. Pada tahun 2013 peti kemas yang masuk menjadi 20.389 TEUs. Angka itu terus meningkat hingga 32 persen pada tahun 2014, atau sebanyak total 27.080 TEUs. Sedangkan peningkatan arus petikemas di Pelabuhan Batulicin yang masih merupakan kawasan Pelabuhan Kotabaru dari 9.839 TEUs pada tahun 2013 menjadi 9.892 TEUs pada tahun 2014.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here