Pelindo III Targetkan 43 Pelabuhan Kelolaan Gunakan Integrated Billing System

0
258
Suasana aktvitas bongkar muat di Terminal Laut Teluk Lamong, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5). ANTARA FOTO/Zabur Karuru/ed/mes/15

Surabaya – (suaracargo.com)

Pelindo III agar menargetkan 43 pelabuhan yang dikelola oleh perusahaan BUMN tersebut menerapkan Integrated Billing System (IBS) atau sistem layanan yang terintegrasi. Saat ini, Pelabuhan Tanjung Perak telah 100 persen menerapkan layanan IBS.

Direktur Keuangan Pelindo III, U Saefudin Noer, mengatakan bahwa IBS dibangun untuk mempermudah pengguna jasa dalam transaksi layanan jasa kepelabuhan sehingga membuat efisiensi waktu dan biaya dalam proses pengajuan permohonan jasa kepelabuhan. Kemudahan ini termasuk monitoring transaksi dan respons layanan secara realtime.

Menurutnya, program ini menjadi aksi nyata go green karena menghilangkan penggunaan kertas untuk permohonan, pranota dan nota tagihan. Selain itu, program ini juga mendukung Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) dengan meminimalisasi peredaran uang secara fisik.

“Penerapan program IBS ini akan langsung dirasakan oleh pengguna jasa karena proses transaksi dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun,” jelasnya dalam acara Roll Out Integrated Billing System di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu (1/3).

Dalam penerapan IBS, Pelindo bekerja sama dengan empat bank yakni Bank Mandiri, BNI, BRI, dan Bank Jatim. Selain itu, tiga bank lainnya yakni BCA, Bukopin dan CIMB Niaga dalam proses merealisasikan kerja sama. Pelindo III telah mengimplementasikan single portal IBS bersamaan dengan Inaportnet di Pelabuhan Tanjung Perak pada November 2016.

“Dengan kesuksesan implementasi IBS di Pelabuhan Tanjung Perak, manajemen Pelindo III akan melakukan roll out IBS ke seluruh cabang pada akhir tahun ini,” imbuh Saefudin, seperti dilansir republika.co.id.

General Manajer Pelabuhan Tanjung Perak, Joko Noerhuda, mengatakan IBS pertama kali diterapkan di Terminal Teluk Lamong, Gresik. Saat ini, empat dari lima terminal yang dikelola Pelabuhan Tanjung Perak telah menerapkan IBS. Keempatnya yakni, Terminal Teluk Lamong, Terminal Nilam, Terminal Jamrud, dan Terminal Mirah. Sementara Terminal Kalimas masih menerapkan cara manual.

“Jadi kita mengurangi pertemuan dengan pelanggan, ada prinsip transparansi, easy doing bussiness. Mereka bisa tahu saat ini kapal mereka yang dibongkar di Pelabuhan Tanjung Perak sudah dibongkar berapa, layanan peti kemas yang dilayani sudah berapa boks,” jelas Joko kepada wartawan seusai acara tersebut.

Joko mengakui pada awal diterapkan masih terdapat sistem yang error. Pelabuhan Tanjung Perak juga kerap mendapat feedback dari pengguna jasa. Oleh sebab itu, ia berupaya meningkatkan tingkat penggunaan agar pengguna jasa lebih terbiasa dengan IBS.

“Selain IBS, kami juga mengeluarkan facial traffick management. Mei atau Juni akan diimplementasikan untuk lebih meningkatkan jasa kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, tentang pandu maupun layanan kapal tunda,” imbuh Joko.

Ia menyebut, tahun ini Pelabuhan Tanjung Perak akan menambah delapan kapal tunda untuk menggantikan kapal tunda yang telah uzur. Saat ini, Pelabuhan Tanjung Perak telah memiliki 16 kapal tunda yang dioperasionalkan. “Idealnya butuh 18 kapal tunda, yang datang tahun ini delapan, tahun depan datang lagi tujuh kapal tunda,” ucapnya.

IBS merupakan portal layanan jasa kepelabuhanan berbasis online dan terintegrasi dengan perbankan untuk pembayaran elektronik. Inisiasi program IBS dari Kementerian BUMN untuk melakukan integrasi sistem pembayaran tarif jasa kepelabuhanan Pelindo I, II, III dan IV untuk semua layanan dengan memanfaatkan teknologi informasi. IBS ini bermanfaat untuk meningkatkan kapabilitas perusahaan dalam menciptakan nilai tambah, service excellent serta pelaksanaan operasional perusahaan yang efisien, efektif dan optimal.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY