Pembangunan Infrastruktur Diintesifkan Untuk Pikat Investor Asing

0
178
ilustrasi pelabuhan (foto:Istimewa/sindonews.com)
ilustrasi pelabuhan (foto:Istimewa/sindonews.com)

Cikarang – (suaracargo.com)

Kondisi infrastruktur di Indonesia dinilai oleh banyak pihak masih kurang memadai dan berkualitas buruk. Tak hanya World Bank yang melaporkan betapa memprihatinkannya kondisi infrastruktur kita, melainkan juga Japan External Trade Organization (Jetro) atau Badan Perdagangan Luar Negeri Jepang.

Presiden Direktur Jetro, Kenichi Tomiyoshi angkat bicara soal infrastruktur di Indonesia yang perlu dibenahi, dan ditingkatkan. “Indonesia perlu memperbaiki beberapa hal (jika ingin investor asing masuk), khususnya masalah infrastruktur,” ujar Tomiyoshi saat jumpa pers acara Sakura Matsuri di Maxx Box Orange County, Cikarang, Bekasi, Sabtu (25/4/2015).

Perbaikan infrastruktur ini dilakukan dengan cara menambah kapasitas jalan raya dan jalan tol. Selain itu, pengembangan pelabuhan juga dilakukan. Pasalnya, kebutuhan pelabuhan juga dinilai cukup tinggi, terutama pelabuhan peti kemas besar (Deep Sea Port). Demikian halnya dengan tambahan pembangkit listrik.

Meski begitu, Tomiyoshi melihat di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat ini, kebutuhan infrastruktur ini mulai diakomodasi. Hal tersebut terbukti dari ambisi Jokowi mengedepankan pembangunan infrastruktur, termasuk tol laut.

Di sisi lain, kata Tomiyoshi, pemerintah harus menyeimbangkan pembangunan tersebut dengan regulasi yang jelas supaya investasi asing bisa masuk dengan mudah. “Investasi akan jauh lebih baik jika dibarengi dengan perbaikan regulasi, misalnya pada tiap-tiap perusahaan,” jelas Tomiyoshi, sebagaimana dilansir kompas.com

Investasi bertambah

Terkait investasi Jepang di Indonesia, Tomiyoshi memprediksi nilainya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Hanya, tahun ini ada investasi dari perusahaan Jepang yang baru masuk pasar Indonesia atau pun perusahaan yang sudah beroperasi dan melakukan ekspansi bisnis.

Dia menggambarkan, pada tahun-tahun sebelumnya, perusahaan Jepang yang masuk di Indonesia tidak terlalu banyak. Namun, perusahaan tersebut merupakan perusahaan otomotif dengan nilai investasi besar, misalnya Toyota, Mitsubishi, Daihatsu, dan Isuzu. Perusahan-perusahaan tersebut mendirikan pabrik.

Sementara tahun ini, lanjut Tomiyoshi, perusahaan Jepang yang masuk didominasi oleh perusahaan kecil sampai menengah. Dari segi kuantitas, jumlahnya cukup besar sehingga mampu menyaingi nilai investasi perusahaan besar pada tahun-tahun sebelumnya. “Kalau sebelumnya di bidang manufaktur, tahun ini lebih banyak di sektor makanan,” jelas Tomiyoshi.

Menurut data Jetro, hingga akhir 2014, terdapat 1.495 perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia. Ada pun jika dilihat dari nilai investasi, menurut Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Tanizaki, nilainya mencapai 4,71 miliar dollar AS atau Rp 61,1 triliun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY