Pembangunan Pelabuhan Patimban, Pemerintah Masih Kaji Skema Pembiayaan Paling Menguntungkan

0
383
Pantai Patimban, Subang (koran.bisnis.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Pemerintah masih mengkaji skema pembiayaan yang paling tepat untuk proyek pembangunan kawasan Pelabuhan Patimban, Subang, Jawa Barat. Total anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan Pelabuhan Patimban tersebut mencapai 2,49 miliar dolar AS atau Rp34,9 triliun.

Direktur Transportasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Prihartono menyebutkan, saat ini pihaknya bersama dengan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya dan Kementerian Keuangan tengah mencari skema pendanaan yang paling menguntungkan.

Bappenas sendiri, menurut Bambang, kini tengah memproses agar Pelabuhan Patimban dimasukkan ke dalam rencana buku biru (bluebook) alias Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah (DRPLN-JM) sehingga pemerintah bisa segera mendapatkan pinjaman.

Bambang menjelaskan, hingga kini, pihak yang tertarik dan berpeluang besar untuk membiayai pembangunan Pelabuhan Patimban tersebut adalah Japan International Cooperation Agency (JICA).

Bahkan, Pemerintah Jepang juga sudah menawarkan skema Special Term Economic Purposes (STEP) loan dengan grace period selama 10 tahun dan jangka waktu pinjaman 40 tahun.

Dengan postur pendanaan tersebut, Bambang mengakui bahwa pemerintah tengah mengupayakan sistem yang lebih menguntungkan bagi Indonesia.

“Ya sekarang lihat kebutuhan Indonesia, dengan ekonomi seperti saat ini harus dilihat mana yang pas. Karena kondisi ekonomi kita selalu berubah. Dengan mekanisme STEP, kontraktornya katakanlah dari Jepang tidak bisa lokal. Nah sekarang bisa tidak kalau kontraktor lokal?” ungkap Bambang, seperti dilansir maritimedia.com.

Dalam skema tersebut, pemberi pinjaman menghendaki agar konsultan dan kontraktor dilakukan secara bersama-sama atau joint operation.

Bambang menyebut, saat ini pemerintah pusat masih mengkaji apakah memungkinkan dalam sistem lain yang bekerja adalah kontraktor lokal. Bambang mengakui potensi menjadi kontraktor Patimban terbuka sangat lebar bagi badan usaha milik negara (BUMN).

“Kita lihat juga kontraktor kita saat ini masih bisa menerima proyek atau tidak? Kalau bisa, biar kontraktor lokal yang mengerjakan, kalau tidak bisa boleh kontraktor dari Jepang. Ini makanya semua dievaluasi oleh Presiden dan beliau ingin tahu mana yang lebih menguntungkan,” pungkas Bambang.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here