Pembangunan Pelabuhan Sorong Telan Investasi 3 Triliun

0
303
Ilustrasi Pelabuhan (detik.com/ Foto: Rachman Haryanto)
Ilustrasi Pelabuhan (detik.com/
Foto: Rachman Haryanto)

Jakarta – (suaracargo.com)

PT Wijaya Karya mendekati PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II untuk menggarap proyek Pelabuhan Sorong di Papua Barat. Dalam data Pelindo II, rencana pengembangan Pelabuhan Sorong dilakukan pada 2016-2019. Pelabuhan tersebut bakal memiliki kapasitas 15 juta ton dengan nilai proyek Rp 3 triliun. Pemerintah kabupaten setempat akan memfasilitasi pembebasan lahan untuk pelabuhan yang akan terintergrasi dengan zona ekonomi khusus.

Direktur Keuangan Wika Aji Firmantoro mengatakan, kontraktor pelat merah ini berminat menjadi kontraktor sekaligus investor karena perseroan ingin masuk kembali ke proyek baru pelabuhan. Meski porsinya, lanjut Aji, kecil. Nanti itu tergantung Pelindo II dan konsorsiumnya terdiri atas siapa saja.

“Kami masih mengkaji ingin punya porsi berapa di Pelabuhan Sorong. Kemungkinan minoritas, seperti pada proyek Petikemas Batu Ampar. Di situ, kami punya porsi 15 persen,” ujar Aji pada wartawan di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Di bagian lain Wika mengklaim telah berhasil membukukan kontrak baru sebesar Rp 14 triliun hingga akhir Juli 2015. Kontrak tersebut setara dengan 44,24 persen dari target tahun ini yang mencapai Rp 31,64 triliun. Perseroan bakal mengejar target kontrak baru tersebut pada semester II ini. “Kontrak dari pemerintah akan berkontribusi lebih dari 50 persen tahun ini. Makanya, kami optimistis akan meraih cukup banyak kontrak baru pada kuartal III-2015,” ujar Aji, seperti dilansir bisnis.com.

Disebutkan pula oleh Aji, pemerintah resmi menetapkan Wika sebagai pemimpin konsorsium HSR pada April 2015. Anggota konsorsium terdiri atas Jasa Marga, Industri Kereta Api, LEN Industri, dan Perkebunan Nusantara VIII. “Pemerintah Tiongkok telah menyatakan keseriusannya untuk mengucurkan investasi ke proyek HSR. Perusahaan pelat merah asal Tiongkok, yaitu China Railway Corporation, berkomitmen menyiapkan dana sebesar US$ 5,5 miliar. Di sini Wika membidik porsi kepemilikan sebesar 60 persen pada proyek HSR. Beberapa opsi pendanaan proyek HSR masih dikaji. Antara lain penawaran umum terbatas saham atau rights issue yang disertai penyertaan modal negara, pada 2016. Perseroan juga mengkaji penerbitan obligasi lebih dari Rp 1 triliun, tahun depan. Obligasinya bisa global ataupun domestik. Tergantung pasarnya nanti,” jelasnya.

Sumber proyek HSR bisa juga berasal dari belanja modal atau capital expenditure (capex) 2016. Perseroan memperkirakan, capex tahun depan sekitar Rp 3-4 triliun. Ini naik dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun ini sebesar Rp 2 triliun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here