Pembangunan Sektor Maritim Harus Dimulai Dari Bagian Barat

0
428
Suasana pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/10). (sumber: Antara/OJT/Sigid Kurniawan)
Suasana pelabuhan peti kemas Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (8/10). (sumber: Antara/OJT/Sigid Kurniawan)

Bengkulu – (suaracargo.com)

Lembaga pengkajian ekonomi yang dibentuk oleh para alumni Universitas Islam Indonesia, Mahfud MD Initiatif (MMD Initiatif), mengungkapkan bahwa percepatan pembagunam ekonomi maritim harus dimulai dari penguatan pelabuhan yang ada di daerah barat.

Koordinator MMD Initiatif, DR Ridwan Mukti menyatakan, pembangunan kemaritiman di Indonesia harus dimulai dari pantai barat Sumatera. Alasannya, potensi kemaritiman di wilayah tersebut cukup besar dan lebih mudah untuk digarap secara maksimal. Apalagi perairan pantai barat Sumatera merupakan laut lepas di Samudra Hindia yang masih jarang dilalui kapal besar baik kapal penumpang, kapal kargo maupun kapal penangkap ikan internasional.

“Pantai Barat Sumatera hanya memiliki 2 pelabuhan besar, Teluk Bayur dan Pulau Baai. Sedangkan pelabuhan lainnya hanya sebagai pelabuhan penyangga, mulai dari Sibolga, Mukomuko, Linau dan Pelabuhan Panjang,” ujarnya di Bengkulu, Kamis (18/12/2014), sebagaimana dilansir liputan6.com.

Penambahan jumlah pelabuhan baru dan peningkatan kapasitas pelabuhan penyangga, lanjut Ridwan, sangat dibutuhkan untuk membentuk cakram ekonomi pesisir. Tujuan pembangunan pelabuhan-pelabuhan itu adalah agar pengelolaan sektor kemaritiman bisa lebih maksimal. Sebab, jika penunjang operasional seperti kebutuhan logistik, bahan bakar, maintenance peralatan laut dan lokasi sandar kapal sudah tidak lagi menjadi kendala, aktifitas bongkar muat bisa dilakukan secara cepat.

Kebutuhan pelabuhan itu bakal sangat terasa dalam waktu 5 tahun ke depan. Saat ini saja, aktifitas pelayaran di Selat Malaka sudah sangat padat. Bahkan, sudah beberapa kali terjadi tabrakan antar kapal dan kecelakaan laut lainnya.

“Pengalihan jalur pelayaran internasional dari Selat Malaka ke Samudra Hindia tidak bisa dihindari lagi, kita harus siap, apalagi program pembangunan kemaritiman yang dicanangkan pemerintahan Jokowi-JK sudah mulai berjalan awal tahun 2015. Pembenahan sektor kepelabuhanan harus diutamakan,” pungkasnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here