Pemberlakuan Sistem Direct Call Masih Tunggu Kesiapan Komponen

0
173
ilustrasi pelabuhan (industri.bisnis.com)

Samarinda – (suaracargo.com)

Pemberlakuan sistem direct call PT Pelindo IV dalam penanganan ekspor-impor se-Kalimantan masih menunggu persiapan beberapa komponen penunjang. Beberapa di antara komponen tersebut adalah sistem administrasi customs clearance yang mesti ditangani pihak lokal, maupun jenis barang yang dipersiapkan untuk diekspor. Direct call tersebut difokuskan untuk pelayanan pengiriman barang di kawasan timur Indonesia (KTI).

Diketahui, meski sistemn ini bukan masuk program tol laut andalan Presiden Joko Widodo, pemberlakuan direct call dalam prinsipnya bersifat sama. Yakni, sama-sama bertujuan menekan harga dari sisi transportasi angkutannya.

Asisten Manajer Hukum Humas dan Protokoler PT Pelindo IV Samarinda M Risal menjelaskan, direct call memang mirip, program tol laut Presiden Jokowi, namun 100 persen sama. Pada konsep tol laut, pendistribusian barang dilakukan menggunakan kapal berkapasitas besar dalam satu jalur keberangkatan. Kapal-kapal besar tersebut hanya mendistribusikan barang ke pelabuhan yang besar. Yakni, terdapat lima pelabuhan besar yang ditentukan sebagai jalur utama tol laut, dari 24 pelabuhan se-Indonesia. Sehingga, dari pelabuhan besar tersebut barang yang didistribusikan disebar oleh kapal yang lebih kecil, ke 19 pelabuhan kecil lain.

“Sementara direct call ini ditujukan untuk menekan harga barang di KTI. Seperti yang sudah berjalan saat ini di Makassar. Nantinya, di Balikpapan tersebut akan difokuskan untuk jalur utama ekspor-impor se-Kalimantan. Karena, Kalimantan sangat berdekatan dengan negara lain di ASEAN,” ungkap dia, seperti dilansir

Risal melanjutkan, mengenai pelabuhan terminal peti kemas (TPK) Palaran di Samarinda, tidak akan bisa melayani sebagaimana yang dilakukan dalam direct call pelabuhan KKT (PT Kaltim Kariangau Terminal) di Balikpapan tersebut. TPK Palaran akan berfokus antarpulau pada pelayaran nasional saja. “Kami belum bisa pastikan kapan dimulainya pemberlakuan direct call tersebut. Sebab, masih ada yang dipersiapkan,” imbuhnya.

Sementara, Asisten Manajer Pelayanan Barang PT Pelindo IV Samarinda M Darwis menerangkan, saat ini pihak PT Pelindo IV masih mempersiapkan berbagai komponen penunjang direct call. Seperti barang yang akan diantar nanti pada perdananya, yaitu cangkang sawit yang ditarget sampai 30 ribu ton dalam sekali pengapalan direct call.

Biasanya, lanjut dia, dalam jalur pelayaran ekspor-impor melalui clearance di Bea Cukai pusat Jakarta, maka dengan adanya direct call dari Balikpapan sudah harus menyediakan pelayanan tersebut. Namun, dia belum bisa memastikan pihak Bea Cukai mana yang akan menangani clearance tersebut.

Darwis menjabarkan lebih lanjut, kapal yang nantinya akan digunakan adalah kapal pihak asing dari luar negeri. “Saat ini, kami masih mencari potensi-potensi barang yang bisa diekspor dalam jumlah besar. Selain cangkang sawit, ada potensi lainnya seperti plywood dan barang molding yang saat ini masih dikirim antarpulau sebelum diekspor. Sehingga, statusnya belum barang ekspor. Kalau nanti, ini bisa berubah menjadi barang berstatus ekspor,” ujarnya.

“Prinsip pelayaran ini mengikuti perdagangan. Tentu sarana dan prasarana di KKT Balikpapan sudah siap. Hanya menunggu persiapan lainnya,” ujarnya. Sebab, tambah dia, permasalahan yang biasa membuat keberangkatan kapal menjadi lama salah satunya perihal dokumen-dokumen administrasi.

Ditemui secara terpisah, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Samarinda Jannus Siahaan justru baru mendengar kabar rencana direct call tersebut. Dia sendiri belum mendapat konfirmasi langsung dari pihak PT Pelindo IV. “Saya baru tahu soal ini. Biasanya, kalau ada seperti ini kami pasti diberi tahu. Tapi, ini saya baru dengar,” ujarnya lantas terkekeh.

Tapi, dia menegaskan, pihaknya akan memberi kebebasan para pengguna jasa dalam melakukan port of destination (POD) kapal dari luar negeri. Sementara pemberitahuan impor barang (PIB) akan disesuaikan dengan keadaan pelayaran nantinya.

Diketahui, Bea Cukai Samarinda menangani ranah se-Kaltim dan Kaltara. Sementara Bea Cukai lainnya di Balikpapan, terpisah dari pelabuhan KKT. Yakni, di Pelabuhan Semayang. Proses clearance tersebut, dikatakan pihak PT Pelindo IV, masih akan disusun.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY