Pemerintah DIY akan Hidupkan Dry Port di Bantul

0
353
Cikarang Dry Port. (Foto: Jababeka)

Daerah Istimewa Yogyakarta – (suaracargo.com)

Pemerintah DIY akan menghidupkan lagi keberadaan in land dry port atau pelabuhan kering di wilayah Sedayu Bantul. Pemerintah DIY tinggal menunggu port number dari pemerintah pusat.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) DIY Sigit Haryanta mengatakan, selama ini lokasi seluas lima hektare tersebut sempat terbengkalai. Pemerintah DIY belum memiliki port number untuk mengoperasikan kawasan tersebut.

“Kami tinggal menunggu port number dari pusat. Selama port narasumber belum turun, dry port tersebut belum bisa beroperasi,” kata Sigit usai pembukaan Rapat Kerja (raker) Asosiasi Pengusaha Bongkar Muat Indonesia (APBMI) di Hotel Horizon Jogja, Selasa (8/9/2015).

Dia berharap, Raker APBMI dilaksanakan di Jogja mampu memberikan masukan sekaligus bantuan untuk mengembangkan dry port yang ada di Bantul itu. Menurut Sigit, lokasi dry port di Sedayu tersebut sudah ideal. Selain lokasinya berada di pinggir jalan nasional dan berdekatkan dengan stasiun, posisi dry out juga berada di wilayah tengah Jawa. “Dry port ini nantinya akan difungsikan untuk alur keluar masuknya logistik seperti halnya yang terjadi di pelabuhan saat ini,” ujar Sigit, seperti dilansir harianjogja.com.

Mantan Kepala Biro Umum Hukum dan Protokoler (UHP) Setprov DIY ini menjelaskan, keberadaan dry port di DIY diharapkan juga mampu memangkas birokrasi, waktu hingga biaya pengiriman logistik yang cukup mahal.

“Pengusaha DIY dan sekitarnya tidak perlu harus ke Semarang, Surabaya dan Jakarta untuk pengemasan. Mereka tinggal melakukan semua itu di dry port sini. Jadi banyak keuntungan jika kawasan tersebut segera beroperasi,” jelasnya.

Sekretaris APBMI Hamka menyambut baik arah pembangunan DIY yang mulai mengarah ke sektor maritim. Salah satunya dengan pembuatan dry port. Menurut dia, wilayah DIY memiliki potensi untuk dilirik pengusaha, terlebih dua pelabuhan selama ini di Jakarta dan Surabaya sudah padat.

“Itu juga yang sebenarnya membuat dwelling time [waktu bongkar muat peti kemas] di pelabuhan menjadi lama,” jelasnya.

Hamka mengatakan, dry port DIY jika dikembangkan dapat menjadi pelabuhan penghubung untuk pelabuhan lain. Terlebih banyak potensi dunia usaha yang bisa dimanfaatkan, seperti dari wilayah Jawa Tengah Selatan dan sebagaian Jawa Timur.

“DIY bisa menjadi alternatif pelabuhan Jakarta atau Surabaya yang sudah padat atau kalau harus ke Semarang yang jaraknya mungkin juga terlalu jauh,” tuturnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here