Pemerintah: Logistik Pangan Mendesak Untuk Dibenahi

0
475
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui sistem logistik pangan di Indonesia masih perlu dibenahi. (Dok. Sekretariat Kabinet). (ccnindonesia.com)

Jakarta – (suaracargo.com)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui bahwa sistem logistik pangan di Indonesia masih perlu dibenahi. Ia menilai, sistem logistik yang ada sekarang tidak mampu menjaga kualitas bahan pangan yang diangkut dengan optimal.

“Perdagangan dan logistik ini area yang tidak pernah kami urusi,” ujarnya saat menghadiri Rapat Koordinator Nasional (Rakornas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Senin (28/11).

Darmin mencotohkan, bagaimana buruknya pengangkutan hasil panen sayuran, sehingga sebagian komoditas tersebut rusak saat diterima di pasar tempat tujuan. Kondisi ini memengaruhi ketersediaan bahan pangan dan harganya di pasar.

“Petani kita itu menaruh hasil panennya tiga tingkat di mobil pick-up. Ada pakai lumpur dan segala macam. Kemudian, ada orang yang tidur di atasnya. Kacang panjang ditidurin ya bonyok,” terang dia.

Di tempat yang sama, Franky O Widjaja, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan mengeluhkan, tingginya tingkat kerusakan pangan saat didistribusikan di Indonesia. “Di Indonesia, lebih dari separuh hasil pangan rusak di perjalanan saat pengiriman,” kata Franky, seperti dilansir CNN Indonesia.

Padahal, lanjut Franky, negara-negara maju sudah bisa menekan tingkat kerusakan pangan saat pengiriman di bawah satu digit. Oleh karena itu, Franky menyarankan adanya investasi yang lebih baik di bidang logistik dan gudang pendingin (cold storage).

Dengan adanya investasi seperti itu, kerusakan hasil pangan, khususnya bahan pangan yang mudah rusak (perishable mood) bisa ditekan. Hal ini bisa berdampak positif pada upaya menjamin ketersediaan pangan dengan harga yang lebih kompetitif.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri Oke Nurwan, mengungkapkan, sebenarnya, pemerintah telah memiliki sistem resi gudang di mana petani bisa menyimpan hasil panennya dalam satu gudang terlebih dahulu. Beberapa komoditas yang masuk dalam sistem resi gudang di antaranya gabah, beras, kopi, kakao, lada, karet, rumput laut dan jagung.

Setelah menaruh di gudang, petani akan mendapatkan dokumen (resi) kepemilikan atas komoditas yang disimpan dalam gudang. Resi itu bisa digunakan petani sebagai jaminan kredit perbankan.

“Dengan sistem resi gudang, petani setelah panen tidak perlu membawa-bawa hasil panennya, tetapi taruh di gudang, dan yang dibawa resinya,” imbuh Oke.

Sayangnya, lanjut Oke, sistem resi gudang tersebut malah belum banyak dimanfaatkan sebagai bagian dari pengelolaan pasca panen oleh petani di Indonesia. Karenanya, meskipun telah diluncurkan sejak tahun 2006, pemerintah perlu lebih meningkatkan sosialisasi sistem resi gudang ke petani.

“Target kami mensosialisasikan dulu sistem resi gudang, karena pada dasarnya, saat ini petani belum betul-betul memahami sistem resi gudang,” paparnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here