Pengarengan Diusulkan Gantikan Lokasi Pelabuhan Cilamaya

0
540

Subang – (suaracargo.com)

Tokoh masyarakat pesisir Desa Pangarengan mengusulkan pantai Pangarengan menjadi lokasi pengganti pembangunan pelabuhan Cilamaya. Keamanan di lokasi tersebut terjamin dan cukup strategis. Apalagi Pertamina menolak pelabuhan baru dibangun di Cilamaya karena bakal mengganggu pipa bawah laut.

Tokoh masyarakat Desa Pangerangan Sutawijaya, saat dijumpai di rumahnya mengatakan bahwa jika pembangunan pelabuhan yang semula di Cilamaya berpindah ke Desa Pangarengan, maka pemindahan itu merupakan sesuatu yang positif. Apalagi menurut Suta, sesuai dengan bukti-bukti sejarah di Desa Pangarengan, pada masa pendudukan Belanda sekitar tahun 1920-an, pantai Pangarengan sempat dijadikan pelabuhan oleh Belanda untuk mengangkut hasil bumi. Balai Desa Pangarengan dulunya pernah dijadikan transit barang-barang hasil bumi seperti rempah-rempah, teh, kina, kayu jati, padi, karet, tebu, yang merupakan hasil bumi dari Subang, Karawang, Purwakarta dan Indramayu yang kemudian diangkut ke Batavia.

“Jadi saat itu Belanda sudah berpikir mencari lokasi yang strategis untuk dijadikan pelabuhan dengan muara sungai yang besar, setelah disurvei maka Desa Pangarengan tempat bermuaranya sungai Cipunagara sangat cocok dijadikan Pelabuhan. Kemudian Belanda menyiapkan tiga perahu Blander berukuran 30m x 7m dengan kapasitas 100 ton sebagai angkutan barang menuju perahu besar di tengah laut dekat Muara Sungai Cipunaraga,” ujarnya, seperti dilansir dari Pasundan Ekspres (Group JPNN), Kamis (16/10).

Sejarah itu pun ditulis sebagai bagian dari sejarah Desa Pangarengan. Sejarah itu ia gali sejak tahun 60-an. Bahkan menurutnya, ada dua orang putra putri Pangarengan yang dipekerjakan oleh Belanda di Pelabuhan ini. Seorang wanita bernama Usni dan Rustiman yang fasih berbahasa Belanda. Saat itu, mereka bertugas sebagai penerima telepon di Pos Pelabuhan dan di Pos laut dekat Muara Sungai Cipunagara. “Tetapi kemudian saat pergerakan kemerdekaan, kedua orang ini sempat dijadikan informan oleh Bangsa kita, untuk mencari informasi keberadaan Belanda pada tahun 1940-an,” tuturnya.

Kemudian pada tahun 1942, saat Jepang akan menduduki Indonesia, Belanda mengalami kepanikan. Untuk mengecoh dan mencegah Jepang mendarat/berlabuh di pelabuhan Pangarengan itu, Belanda menenggelamkan tiga perahu blandernya di tiga titik di Sungai Cipunagara yaitu antara Kampung Pancer Kulon dan Pancer Wetan. Tetapi, ternyata Jepang mendarat di Sumur Sereh Eretan Indramayu. “Jadi di Desa pangareangan ini banyak fakta dan bukti sejarah saat zaman Belanda sudah dijadikan pelabuhan,” terangnya.

Fakta dan bukti saat perang Jepang dan Belanda lainnya adalah nama sungai Pancer Mati yang artinya banyak mayat yang mati di Sungai itu, Sungai Bom yang berarti adanya pesawat perang Jepang yang jatuh dan meledak di sungai itu, kemudian adanya nama Teluk Sinyonya di mana saat itu ditemukan mayat nyonya Belanda yang mengambang di teluk itu.

Ditemui secara terpisah, Wakil Bupati Hj Imas Aryumningsih, mendukung jika rencana pembangunan di Cilamaya dipindahkan ke Pangarengan. Namun, perlu dilakukan kajian terlebih dahulu, kata wakil Bupati. “Alhamdulilah kami tentu mendukung jika nanti pelabuhan dipindah ke Subang, ke Pantura. Akan meningkatkan PAD dan masyarakat bisa lebih sejahtera,” ujarnya.

Don't be shellfish...Tweet about this on TwitterShare on Google+Share on FacebookPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someone

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here